Betapa sering kita mengucapkan, mendengar, mendambakan dan berdoa untuk mendapatkan keberkahan. Keberkahan dalam umur, keberkahan dalam keluarga, keberkahan dalam usaha, keberkahan dalam harta benda, dll. Akan tetapi, pernahkah kita bertanya, “Apakah sebenarnya keberkahan itu? Dan bagaimana keberkahan dapat diperoleh?”

Mungkinkah berkah itu hanya terwujud dalam “berkat” yang berhasil kita bawa pulang setiap kali kita menghadiri suatu pesta atau undangan?

Mungkinkah keberkahan itu hanya milik para kiyai, atau tukang ramal, juru-juru kuncen kuburan, sehingga bila salah seorang dari kita memiliki suatu hajatan, ia datang kepada mereka untuk “ngalap berkah”, agar cita-cita kita tercapai? ([1])

“Berkah” atau “Al Barokah” bila kita pelajari dengan sebenarnya, baik melalui ilmu bahasa arab atau melalui dalil-dalil dalam Al Qur’an dan As Sunnah, niscaya kita akan mendapatkan bahwa “al Barokah” memiliki kandungan dan pemahaman yang sangat luas dan agung. Secara ilmu bahasa, “Al Barokah” berartikan: “Berkembang, bertambah dan kebahagiaan. ([2])

Imam An Nawawi berkata: “Asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi.” ([3])

Apa yang terlintas dalam benak seorang muslim ketika mendengar kata “berkah”? apakah sesuatu yang banyak dan melimpah? ataukah yang sedikit namun mencukupi? ternyata Islam memiliki cara pandang tersendiri tentang “berkah” tersebut. Bagaimanakah pandangan Islam tentangnya?

Simaklah penjelasan yang akan disampaikan oleh Al-Ustadz Muhammad Elvi Syam, Lc., MA. hafizhahullah dengan tema “Agar Rizki Penuh Berkah” berikut ini.

–Semoga Bermanfaat–

Yufid.TV official website: http://yufid.tv

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY