Manakala bulan Ramadhan yang merupakan salah satu di antara bulan-bulan musim kebaikan yang teragung itu berlalu dengan terbitnya hilal awal malam bulan Syawal, maka tibalah hari esok yang dinanti oleh umat Islam, hari di mana setiap muslim yang telah berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan itu memperoleh salah satu dari dua kebahagiaan yang telah dijanjikan oleh Allah Azza wa Jalla melalui lisan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah hari ‘Idul Fithri, hari raya dan hari berbuka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا: إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ بِفِطْرِهِ، وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ

“Dan bagi orang yang berpuasa akan memperoleh dua kebahagiaan: apabila berbuka ia bahagia dengan berbukanya dan apabila berjumpa Tuhannya ia bahagia dengan (pahala) puasanya.” [Muttafaqun ‘alihi]

Berikut kami bawakan secara ringkas panduan praktis dalam berhari raya agar dapat menuai pahala.

Pertama : Memperbanyak takbir. Allah ta’ala berfirman,

وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ الله عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan (bulan Ramadhan) dan hendaklah kamu bertakbir (mengagungkan) Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” [QS. Al-Baqarah: 185]

Beberapa Ketentuan dalam Bertakbir:

1) Waktu mulai bertakbir adalah sejak terbenam matahari di akhir Ramadhan sampai selesai khutbah Idul Fitri.

2) Takbir hari raya Idul Adha ada dua bentuk, yaitu muthlaq dan muqoyyad, adapun takbir Idul Fitri hanyamuthlaq saja.

➡ Muthlaq artinya umum tanpa terkait waktu, hendaklah memperbanyak takbir kapan dan di mana saja, kecuali di tempat-tempat yang terlarang melafazkan dzikir, yaitu di WC dan yang semisalnya. Takbirmuthlaq Idul Adha dimulai sejak awal Dzulhijjah sampai akhir hari Tasyriq, adapun Idul Fitri dimulai sejak terbenam matahari di akhir Ramadhan sampai selesai khutbah Idul Fitri.

➡ Muqoyyad artinya terkait dengan sholat lima waktu, yaitu bertakbir setiap selesai sholat lima waktu, dimulai sejak ba’da Shubuh hari Arafah sampai ba’da Ashar di akhir hari Tasyriq. Adapun takbir Idul Fitri tidak disyari’atkan takbirmuqoyyad setiap selesai sholat lima waktu.

3) Disunnahkan mengeraskan takbir bagi laki-laki dan dipelankan bagi wanita, dan disunnahkan bertakbir di perjalanan ketika menuju sholat ‘Ied

Kedua : Disunnahkan mandi sebelum menuju sholat ‘Ied
Sebagaimana riwayat dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu,

سَأَلَ رَجُلٌ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ الْغُسْلِ فَقَالَ: اغْتَسِلْ كُلَّ يَوْمٍ إِنْ شِئْتَ، فَقَالَ: الْغُسْلُ الَّذِي هُوَ الْغُسْلُ؟ قَالَ: يَوْمُ الْجُمُعَةِ، وَيَوْمُ عَرَفَةَ، وَيَوْمُ النَّحْرِ، وَيَوْمُ الْفِطْرِ

“Seseorang bertanya kepada Ali radhiyallahu’anhu tentang mandi. Beliau berkata: Mandilah setiap hari kalau mau. Maka orang itu berkata: Maksudku mandi yang dianjurkan? Beliau berkata: Mandi di hari Jum’at, hari Arafah, Idul Adha dan Idul Fitri.” [HR. Al-Baihaqi]

Ketiga : Disunnahkan makan kurma dalam jumlah ganjil minimal 3 butir, sebelum keluar menuju sholat Idul Fitri.
Adapun Idul Adha disunnahkan untuk tidak makan sampai sholat, dan disunnahkan untuk makan dari hewan sembelihan yang kita sembelih. Sahabat yang Mulia Buraidah radhiyallahu’anhu berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ، وَلاَ يَطْعَمُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يُصَلِّيَ

“Dahulu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak keluar pada hari Idul Fitri sampai beliau makan, dan beliau tidak makan pada hari Idul Adha sampai beliau sholat.” [HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Keempat Keluar menuju sholat Idul Fitri dengan cara berjalan kaki.
Sahabat yang Mulia Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا، وَيَرْجِعُ مَاشِيًا

“Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam keluar menuju sholat ‘Ied dengan berjalan kaki dan kembali dengan berjalan kaki.” [HR. Ibnu Majah]

Kelima Disunnahkan mengambil jalan yang berbeda saat pergi dan kembali, diantara hikmahnya adalah untuk menampakkan syiar Islam di hari raya.
Sahabat yang Mulia Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam apabila di hari raya, beliau mengambil jalan yang berbeda.” [HR. Al-Bukhari]

Keenam Disunnahkan untuk sholat di lapangan
Sebagaimana hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى المُصَلَّى، فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلاَةُ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ، فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ،وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ، وَيُوصِيهِمْ، وَيَأْمُرُهُمْ فَإِنْ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ، أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam keluar di hari Idul Fitri dan Idul Adha menuju lapangan tempat sholat, maka yang pertama beliau lakukan adalah sholat, kemudian beliau bangkit lalu menghadap manusia dan mereka dalam keadaan duduk di shaf-shaf mereka, maka beliau menasihati, memberi wasiat dan memerintahkan mereka. Apabila beliau ingin memutuskan pengutusan sekelompok sahabat maka beliau memutuskannya, atau apabila beliau ingin memerintahkan sesuatu maka beliau memerintahkannya, kemudian beliau pergi .” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Ketujuh Tidak ada Shalat Sunnah 2 Rakaat Sebelum Shalat Ied
Tidak disunnahkan sholat sunnah apa pun sebelum dan sesudah sholat ‘Ied, karena tidak ada shalat sunnah sebelum shalat ied di lapangan, kecuali apabila sholat ‘Ied dilaksanakan di masjid maka disunnahkan sholat tahiyyatul masjid apabila sholat ‘Ied belum dimulai. Sahabat yang Mulia Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا

“Bahwa Nabi shallallahu’alaihi wa sallam sholat Idul Fitri dua raka’at, beliau tidak sholat apa pun sebelumnya dan setelahnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Kedepalan Dianjurkan juga bagi anak-anak untuk ikut keluar menuju tempat sholat dan khutbah ‘Ied
Sebagaimana Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma ketika masih kecil, ikut keluar bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata,

خَرَجْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فِطْرٍ أَوْ أَضْحَى فَصَلَّى، ثُمَّ خَطَبَ، ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ، فَوَعَظَهُنَّ، وَذَكَّرَهُنَّ، وَأَمَرَهُنَّ بِالصَّدَقَةِ

“Aku pernah keluar bersama Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pada hari Idul Fitri atau Idul Adha, maka beliau sholat, kemudian berkhutbah, kemudian mendatangi kaum wanita, lalu menasihati dan mengingatkan mereka, dan memerintahkan mereka bersedekah.” [HR. Al-Bukhari]

Kesembilan Mengucapkan selamat Hari Raya dengan lafazh yang ada dalilnya
Bagaimana ucapan Hari Raya yang shahih yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah?

Benarkah ucapan “ Minal ‘Aidin wal Faizin Mohon Maaf Lahir dan Batin ”.

Ini sebenarnya KELIRU… Ucapan yang lebih baik dan dicontohkan langsung oleh para sahabat Rasulullah SAW, yaitu :
“Taqobbal Allahu minna wa minkum ”
( Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian )

Jadi sebaiknya ucapan / SMS /BBM kita :
“Selamat Idul Fitri. Taqobbal Allahu minna wa minkum ”
( Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian )

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan :

فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك . قال الحافظ : إسناده حسن .

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 2/446. Syaikh Al Albani dalam Tamamul Minnah (354) mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih.

Semoga risalah ini bermanfaat dan saling berbagi niat untuk meluruskan kekeliruan yang selama ini terjadi…
Silahkan disebarkan.

Artikel : Almanhaj.or.id

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY