Fiqih Mawaris – Buya Muhammad Elvi Syam, Lc. MA – Hajb dalam Warisan

562

Al-hajb ( اَلْحَجْبُ ) secara bahasa berarti al-man’u (اَلْمَنْعُ , terhalang). Yang dimaksud di sini adalah terhalangnya orang tertentu dari seluruh bagian warisannya atau sebagiannya saja karena adanya orang lain.

Macam-Macam Hajb
Hajb ada dua macam; (1) hajb nuqshan dan (2) hajb hirman.
Hajb nuqshan adalah berkurangnya (bagian) warisan salah seorang ahli waris karena adanya ahli waris yang lain, dan ini terjadi pada lima orang:

1. Suami terhalang dari setengah harta warisan menjadi seper-empat, tatkala ada anak.

2. Isteri terhalang dari menerima seperempat harta warisan menjadi seperdelapan ketika ada anak.

3. Ibu terhalang dari menerima sepertiga harta warisan menjadi seperenam, ketika ada al-far’ul warits (anak turun si mayit).

4. Bintu ibn (cucu perempuan dari anak laki-laki).

5. Ukhtun li-ab (saudara perempuan seayah)

Adapun hajb hirman yaitu terhalangnya seluruh warisan dari seseorang karena adanya orang lain, seperti terhalangnya warisan saudara laki-laki (al-akh) ketika ada anak laki-laki (al-ibn). Hajb jenis ini tidak bisa masuk dalam warisan enam golongan dari ahli waris, akan tetapi mereka bisa terhalang dengan hajb nuqshan, dan mereka adalah:

1,2. Abawaan, yaitu al-ab (ayah) dan al-umm (ibu)
3,4. Waladaan, yaitu al-ibn (anak laki-laki) dan al-bint (anak perempuan)
5,6. Zaujaan, yaitu suami dan isteri.

Sedangkan hajb hirman masuk kepada ahli waris selain mereka (yang enam di atas).

Dan hajb hirman berdiri di atas dua asas:
Pertama: Bahwa setiap orang yang berhubungan dengan mayit dengan (perantara) seseorang, maka ia tidak mendapatkan warisan ketika orang tersebut (yang menjadi perantaranya) ada, seperti ibnu ibn (cucu laki-laki) maka ia tidak akan mendapatkan warisan ketika ada ibn (anak laki-laki), (hukum ini berlaku) untuk selain auladul umm (saudara seibu) karena sesungguhnya mereka menerima warisan bersama ibunya padahal mereka berhubungan dengan mayit dengan (perantara)nya.

Kedua: Orang yang lebih dekat didahulukan daripada orang yang lebih jauh, maka ibn (anak laki-laki) menghalangi ibnu akh (anak laki-laki dari saudara laki-laki). Dan apabila mereka sama dalam derajatnya maka ditarjih dengan kekuatan kekerabatannya seperti saudara kandung menghalangi saudara seayah.

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY