Surau TV masuak Koran

978


Menghidupkan Surau dengan Mengandalkan Donatur 

Bersama tujuh rekannya, Dafrizal mencoba mengantarkan “surau” ke rumah kaum muslimin saat surau mulai ditinggalkan. Tidak hanya di Minang, budaya bersurau kembali dihidupkan hingga dinikmati umat muslim di Jeddah, Kuwait hingga Australia.

Suasana santai namun serius terlihat di rumah semi permanen yang beralamat di jalan Belakang Olo I nomor 5, Padang. Rumah sederhana beratap rumbia, kerap pula dijamah banjir. Seperti rumah kos-kosan biasa, jauh dari kesan sebuah studio atau kantor redaksi.

Tapi jangan salah, dari ruangan sederhana itulah ilmu agama divisualkan hingga dapat dinikmati di Jeddah, Kuwait, Australia dan belahan bumi lainnya.

Bukan melalui Youtube atau internet, melainkan saluran televisi menggunakan parabola. Cukup memutar antena ke Satelit Palapa di Feq 4014/H/7200, saluran televisi bernuansa Islami dapat disaksikan di rumah masing-masing.

Rumah itulah yang dijadikan Dafrizal bersama tujuh anak muda lain sebagai redaksi Surau TV. Stasiun televisi dakwah non profit yang hidup dari donatur muslim.

Surau TV telah menjadi sarana keilmuan sejak diluncurkan 24 November 2013 lalu. Jembatan menuju ibadah yang baik dan benar. Layaknya surau bagi orang Minang, Surau TV sarana ibadah dan juga sarana pendidikan.

Program acaranya juga berbeda dibandingkan stasiun TV lainnya. Seperti, Suluah Minang, Kato Urang, Dari Surau ka Surau, Anda Batanyo Buya Manjawek, Buya Dokter Manjawek, Maghrib Mangaji, Ciloteh Lapau Sutan, Dunia Pendidikan, Dialog Publik, Kajian Keluarga dan Tablig Akbar.

Hebatnya, setumpuk program yang disuguhkan hanya dikerjakan oleh tujuh orang kru di bawah keterbatasan secara gotong royong. Biaya produksi mereka hanya mengandalkan donatur, mereka menyebut sebagai infak dakwah. Terkadang tidak tahu siapa pemberi, hanya menyebut hamba Allah.

Infak dakwah dikelola demi kelangsungan hidup Surau TV dan kru. Mungkin belum layak disebut gaji. Hanya sebatas uang transportasi yang terkadang kurang. Infak-infak yang masuk akan disampaikan lagi melalui running teks agar jelas dan transparan.

“Biayanya murni dari infak dakwah. Sudah biasa uang saku sendiri yang mempertanggungjawabkan biaya ke lapangan bila donasi kurang,” kata penggagas Surau TV, Dafrizal saat ditemui di sela kesibukannya, Rabu (22/6).

Ya, begitulah perjuangan Dafrizal, bapak dua anak kelahiran Anakan, Pesisir Selatan, 20 Juni 1987 ini. Selain dirinya, tangan dingin tujuh kru lain tidak bisa dilupakan. Yakni, Rahmad Ridwan, Pausil, Deli Hermanto, Ahsanul Hakim, Jefri, Eko Syahdatain dan Rian Febtriona. Mereka semua belajar secara otodidak.

Perjuangan Dafrizal, suami dari Imelza Eka Kartika itu bersama Surau TV sempat mengalami pasang surut. Jatuh bangun karena kendala biaya.

Namun, selaku GM SurauTV, Dafrizal selalu punya motivasi untuk tetap berjuang dan menebarkan syiar Islam. Misi besar menjadikan Surau TV sebagai tontonan prioritas bagi kalangan muslim tetap membara dalam diri para kru.

Ide mendirikan Surau TV berawal dari hal sederhana. Awalnya, Dafrizal bersama rekan-rekan selalu mengambil video ceramah agama yang mereka sampaikan. Setelah video semakin banyak, muncul keinginan mempublikasikan. Dibuatlah semacam website streming, upload ke Youtube dan sebagainya.

Kala itu, mereka sudah tergabung dalam Radio Rayfm. Radio yang dikelola juga memiliki visi sama, menyebarkan dakwah. Padahal, sebelum di tangan para mujahidin muda ini, radio yang mereka kelola ber-style anak muda banget. Dari donatur perantau muslim radio anak muda dibeli dan disulap menjadi radio dakwah.

Setelah website streaming eksis, ceritanya, muncullah keinginan membuat TV streaming menggunakan satelit. Permintaan live agar pemirsa dapat langsung tanya jawab dengan ustad bermunculan. Tantangan live pun diterima.

Berlanjut, hingga Surau TV mendapat jadwal tayang 12 jam menumpang pada Islam Channel. Kesempatan ini sebagai jawaban dari permintaan perantau agar Surau TV dapat ditonton lebih banyak orang.

Tepat, 17 Agustus 2015, akhirnya Surau TV mendapat kesempatan tayang 24 jam hingga hari ini. Kru dapat menghidupkan fungsi surau yang perlahan mulai hilang di ranah Minang. Nama surau diambil agar filosofi surau sebagai tempat singgah, tempat dakwah dan pendidikan dapat kembali eksis.

“Bila surau mulai ditinggalkan akhir-akhir ini, kami yang akan mengantar surau ke rumah-rumah melalui Surau TV ini,” jelas Dafrizal. Alumni IAIN Imam Bonjol Padang itu memang suka berdakwah sejak kecil. Namun, dakwah di mimbar dirasa masih kurang efektif untuk menjangkau jamaah.

Apalagi pola monoton hingga pesan tidak sampai secara efektif. Dafrizal perlahan mulai tertarik dengan dakwah lepas lewat broadcast. Menurutnya, melalui televisi, dakwah dapat dikemas lebih baik hingga renyah didengar.

Surau TV lebih mengutamakan penyajian ustad berkeilmuan mendalam dari pada ustad populer. Karena prioritas ilmu inilah, sebagian besar dai yang diambil berlatar belakang pendidikan di Madina, Yaman, Mesir dan perguruan Islam ternama di Indonesia.

Selain pertimbangan keilmuan, pertimbangan penceramah yang bersedia dibayar sekadarnya juga menjadi pertimbangan. Maklum Surau TV tidak memiliki iklan dan hanya mengandalkan donatur. Tentu saja dai yang diajak yang semata-mata berniat menyampaikan syiar Islam, bukan mengharap yang lain.

Kru berharap, suatu hari Surau TV dapat menjamah seluruh masjid. Bila ustad tidak datang atau ada mushala dan masjid di pelosok yang tidak mampu mengundang penceramah, jamaah tetap mendapat siraman rohani melalui Surau TV. (*)

13530507_2067106463514690_1152063950_n

Sumber : Koran Padang Ekspress

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY