Terorisme seringkali ditudingkan kepada umat Islam. Sebagian orang yang cemburu kepada agamanya mengira bahwa tudingan itu hanya sekedar propaganda barat untuk menjatuhkan harga diri kaum muslimin di mata dunia  internasional. Sehingga mereka senantiasa menuduh barat (baca: Amerika, khususnya Yahudi) sebagai dalang di balik semua peristiwa semacam ini.

Sebagian lagi justru sebaliknya, mengira bahwa terorisme -dengan melakukan pengeboman di tempat-tempat umum- merupakan bagian dari jihad fi sabilillah dan tergolong amal salih yang paling utama. Sehingga mereka beranggapan bahwa pelaku bom bunuh diri adalah sosok mujahid dan mati syahid. Itulah sekilas dua cara pandang yang bertolak belakang mengenai berbagai peristiwa pengeboman yang terjadi di negeri-negeri Islam atau di negeri kafir yang banyak menelan korban warga sipil.

Saat ini “Terorisme” menjadi diskursus menarik bagi banyak orang. Arus opini yang berkembang “terorisme”  seolah inheren dengan Islam dan kelompok Islam yang dicap radikal.

Di Indonesia kelompok Islam yang cap radikal cukup beragam, namun apakah benar bahwa mereka adalah pilar utama fenomena terorisme? Untuk menjawab pertanyaan diatas, kita perlu empat komponen yaitu hati yang lapang jauh dari sikap emosional dan tendensius, pengetahuan yang cukup terkait realitas kelompok “radikal”, sikap obyektif dan kejujuran. Disamping perlu berani keluar dari jebakan mainstream diskursus Terorisme dan bergeser dari metodologi analisis (framework) kultural yang berkutat kepada persoalan keterkaitan ideologi dan motif dari pelaku terorisme. Kenapa demikian?

Simak penjelasan langsung dari “Mantan Jaringan Terorisme Internasional”, Ustadz Abdurrahman Ayub yang saat ini merupakan Staf Ahli dari BNPT RI (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) dalam acara “Kajian Spesial” LIVE di Surau TV dalam pembahasan “Kupas Tuntas Terorisme di Indonesia”, hari Ahad, 12 Rabiul Ula 1437 H / 21 Februari 2016 M.

 

Comments

comments

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY