Kitab Ahaditsul Iman

Kitab Ahaditsul Iman : Hadits 20 – Iman Bisa Berkurang dengan Kemaksiatan

D

Posted by. Deli Hermanto

03 Oktober 2026 07:47 • 9 view

Share:
Kitab Ahaditsul Iman : Hadits 20 – Iman Bisa Berkurang dengan Kemaksiatan
Ilustrasi. (Gemini AI Pro)

Kitab Rujukan: Kitab Ahaditsul Iman (أحاديث الإيمان) karya Syaikh Dr. Abdurrazzaq Bin Abdul Muhsin Al Badr

Narasumber : Ustadz Rahmat Ridho, S.Ag, M.M

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, wa shallallahu wa sallama ‘ala nabiyyina wa rasulillah Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Alhamdulillah, kita senantiasa memuja dan memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala. Segala pujian mutlak hanya milik Allah semata. Minimal kita membaca Alhamdulillah sebanyak 17 kali dalam sehari di dalam salat fardu kita. Ditambah lagi dengan zikir selepas salat fardu sebanyak 33 kali per waktu salat, maka lisan kita akan sangat sering memuji Allah Subhanahu wa Ta'ala.

AdsDonasi Dakwah

Ayo gabung bersama Surau TV dalam menyebarkan dakwah yang mulia ini

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa menunjukkan kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya." (HR. Muslim no. 1893).

Klik Donasi

Dialah satu-satunya yang berhak atas segala puji karena limpahan nikmat-Nya yang tiada bertepi kepada seluruh hamba-Nya. Seandainya seluruh umat manusia—bahkan jika delapan miliar penduduk bumi hari ini bersatu padu menggunakan alat dan teknologi secanggih apa pun, termasuk kemajuan kecerdasan buatan (AI)—mencoba menghitung-hitung kenikmatan Allah Subhanahu wa Ta'ala, niscaya mereka tidak akan pernah mampu.

Di antara seluruh nikmat tersebut, puncak kenikmatan yang paling agung adalah nikmat iman—yakni keimanan yang benar dan lurus kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Apalah artinya memiliki kenikmatan duniawi yang melimpah ruah jika kita kehilangan keimanan? Oleh karena itu, kita senantiasa memohon kepada Allah, Sang Pembolak-balik Hati:

Yaa Muqallibal quluub, tsabbit quluubanaa 'ala diinik wa thoo'atik
(Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu).

Para pemirsa yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala, kita memasuki hadits ke-20 dari kitab Ahaditsul Iman (kumpulan hadits-hadits tentang keimanan). Pada pembahasan sebelumnya, kita telah mengkaji hadits ke-19 mengenai orang mukmin yang paling sempurna imannya, yaitu yang paling baik akhlaknya. Ini membuktikan bahwa keimanan berbanding lurus dengan akhlak: semakin kokoh keimanan seseorang, semakin mulia pula perilakunya.

Pada hadits ke-20 ini, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengingatkan bahaya dosa terhadap keutuhan iman. Hadits ini diriwayatkan dari sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

"Tidaklah seorang pezina berzina saat ia berzina dalam keadaan beriman; tidaklah seseorang meminum khamar saat ia meminumnya dalam keadaan beriman; tidaklah seseorang mencuri saat ia mencuri dalam keadaan beriman; dan tidaklah seseorang merampas harta rampasan yang berharga sementara orang-orang memandangnya saat ia merampasnya dalam keadaan beriman." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini merupakan salah satu dalil pokok tentang hakikat iman, urgensi menjaga keimanan, serta bagaimana seorang muslim wajib mewaspadai perkara-perkara yang dapat mengotori, melemahkan, dan merusak kemurnian imannya.

Hati dan Iman Membutuhkan Penjagaan

Sebagaimana tubuh lahiriah membutuhkan asupan gizi, istirahat, dan perlindungan dari kuman penyakit agar tidak jatuh sakit, demikian pula dengan hati dan keimanan kita. Jangan sampai kita merasa aman hanya dengan berujar, "Saya sudah beriman, saya sudah muslim."

Iman bukanlah sesuatu yang statis tanpa perlu dirawat. Jika tubuh kekurangan nutrisi dan istirahat, daya tahan tubuh akan anjlok sehingga rentan terinfeksi penyakit. Demikian pula keimanan; jika dibiarkan tanpa siraman ilmu dan ketaatan, ia akan rapuh. Di antara wujud keimanan yang benar adalah timbulnya rasa takut dan waspada apabila iman tersebut terkikis lalu sirna.

Faktor utama yang mengikis keimanan adalah perbuatan dosa. Dosa menodai hati hamba, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bahwa ketika seorang hamba berbuat satu kesalahan, akan tertitik satu noda hitam pada hatinya. Jika ia tidak bertobat, noda tersebut akan menumpuk hingga menggelapkan mata hatinya.

Dosa tidak hanya mengotori, tetapi juga melemahkan keimanan. Hati dinamakan qalb karena sifatnya yang mudah berbolak-balik (taqallub). Maka, sangat keliru persepsi seseorang yang berkata, "Yang penting saya masih beriman, berbuat dosa tidak mengapa." Pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama'ah menegaskan bahwa:

  • Iman bertambah dengan ketaatan.
  • Iman berkurang dengan kemaksiatan.

Para ulama menjelaskan bahwa maksud dari sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam—"tidaklah ia beriman"—adalah ditiadakannya kesempurnaan iman yang wajib (kamalul iman al-wajib), bukan kafir atau keluar dari Islam secara mutlak (selama ia tidak menghalalkannya).

Artinya, mustahil seseorang berani melakukan dosa-dosa besar tersebut—seperti berzina, menenggak khamar, atau mencuri—sementara imannya sedang berada dalam kondisi sempurna. Ketika kemaksiatan dilakukan, cahaya dan kesempurnaan iman terangkat darinya.

Tidak ada manusia yang maksum (terbebas dari dosa) selain para Nabi. Namun, orang yang beriman tidak akan meremehkan dosa atau membiarkan dirinya terjerumus dalam kemaksiatan, apalagi kesyirikan dan praktik takhayul (seperti ramalan nasib, mencari hari sial, atau thiyarah).

Bukti Nyata Mahabbatullah (Cinta kepada Allah)

Iman sangat erat kaitannya dengan kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kecintaan ini memiliki tingkatan yang wajib (al-mahabbah al-wajibah), yaitu kecintaan yang menuntut seorang hamba untuk:

  1. Mencintai segala hal yang dicintai Allah, berupa perintah-perintah dan amalan wajib (seperti salat, kejujuran, dan sedekah).
  2. Membenci segala hal yang dibenci dan dilarang Allah, berupa perkara haram (seperti khamar, zina, pencurian, dan riba).

Cinta sejati membutuhkan komitmen dan pembuktian, bukan sekadar pengakuan di lisan. Jika seseorang mengaku mencintai Allah, bukti konkretnya adalah menjauhi apa yang dimurkai-Nya dan menjalankan apa yang diridhai-Nya.

Semoga mukadimah dari hadits ke-20 ini membuka wawasan kita untuk terus berbenah, memperbanyak zikir, serta menjaga keistiqamahan hati dan iman kita hingga akhir hayat.

Allahumma yassir walaa tu'assir.
(Ya Allah, mudahkanlah urusan kami dan jangan Engkau persulit).

Kita cukupkan dengan doa kafaratul majelis:

Subhaanaka Allaahumma wa bihamdika, asyhadu allaa ilaaha illaa Anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

* Faedah Kajian Kitab bersama Ustadz Rahmat Ridho, S.Ag, M.M dalam pembahasan Kitab Ahaditsul Iman Hadits 20 - Iman Bisa Berkurang dengan Kemaksiatan, Sabtu 3 Oktober 2026

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Related Articles

View All
AdsDonasi Dakwah

Ayo gabung bersama Surau TV dalam menyebarkan dakwah yang mulia ini

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa menunjukkan kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya." (HR. Muslim no. 1893).

Klik Donasi

Trending Insight

Advertisement