Kitab Ahaditsul Iman

Kitab Ahaditsul Iman : Hadits 20 – Iman Bisa Berkurang dengan Kemaksiatan (Bagian 2)

D

Posted by. Deli Hermanto

12 Oktober 2026 20:18 • 8 view

Share:
Kitab Ahaditsul Iman : Hadits 20 – Iman Bisa Berkurang dengan Kemaksiatan (Bagian 2)
Ilustrasi. (Gemini AI Pro)

Faedah Kajian: Hadits-Hadits Tentang Keimanan

  • Tema: Kajian Kitab Ahaditsul Iman – Hadits ke-20: Iman Bisa Berkurang dengan Kemaksiatan (Bagian 2)
  • Narasumber: Ustadz Rahmat Ridho, S.Ag., M.M.
  • Sabtu, 10 Oktober 2026 M / 28 Rabi’ul Akhir 1448 H

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, wa shallallahu wa sallama ‘ala nabiyyina wa rasulillah Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Segala puji senantiasa kita panjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala atas limpahan karunia, rahmat, serta kenikmatan-Nya. Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala agar memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang sedikit—yaitu mereka yang pandai bersyukur. Sebagaimana firman Allah, betapa sedikitnya hamba-hamba yang benar-benar bersyukur, maka kita memohon agar tidak terluput dari golongan yang mulia tersebut.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, kepada keluarga beliau, para sahabat radhiyallahu 'anhum, serta seluruh pengikutnya yang istiqamah meniti jalan kebenaran hingga akhir zaman.

AdsDonasi Dakwah

Ayo gabung bersama Surau TV dalam menyebarkan dakwah yang mulia ini

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa menunjukkan kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya." (HR. Muslim no. 1893).

Klik Donasi

Para pemirsa dan kaum muslimin yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala, kita melanjutkan pembahasan hadits ke-20 dari kitab kumpulan hadits-hadits keimanan (Ahaditsul Iman).

Teks Hadits ke-20 dan Maknanya

Hadits ini diriwayatkan dari sahabat yang mulia, Abu Hurairah—Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausi radhiyallahu 'anhu—bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَشْرَبُ الخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلاَ يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ
"Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman; tidaklah seorang peminum khamar meminum khamar ketika ia meminumnya dalam keadaan beriman; tidaklah seorang pencuri mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman; dan tidaklah seseorang merampas harta rampasan yang berharga di mana orang-orang membelalakkan pandangan kepadanya ketika ia merampasnya dalam keadaan beriman." (HR. Bukhari & Muslim)

Hadits yang agung ini memberikan peringatan yang sangat tegas tentang kedudukan dan urgensi menjaga keimanan kepada Allah Jalla Jalaluh.

Iman Membutuhkan Penjagaan Layaknya Raga

Bagi seorang muslim, menjaga iman adalah sebuah keharusan mutlak. Iman memerlukan pemeliharaan sebagaimana tubuh membutuhkan penjagaan kesehatan.

Apabila seseorang abai merawat fisiknya, penyakit akan mudah menyerang. Maka secara fitrah, manusia berikhtiar dengan menjaga pola makan, berolahraga, dan menerapkan pola hidup sehat, baru kemudian bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Begitu pula halnya dengan keimanan. Jangan pernah berasumsi bahwa ketika seseorang sudah berstatus mukmin, ia tidak lagi membutuhkan penjagaan iman. Kaidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah menegaskan:

  • Iman itu bertambah dan berkurang: bertambah dengan ketaatan, dan berkurang dengan kemaksiatan.
  • Dosa dan maksiat dapat mengotori hati, merapuhkan keimanan, dan melemahkan benteng spiritual seseorang.

Ketika seseorang bergelimang dalam dosa, keimanannya menjadi rapuh. Saat benteng tersebut rapuh, ia akan sangat rentan terombang-ambing dan kian jauh dari kebenaran.

Penafsiran Kalimat "La Yu'min" (Tidak Beriman)

Sebagaimana dijelaskan para ulama, peniadaan iman dalam hadits di atas (la yazni... wa huwa mu'min) bermakna peniadaan kesempurnaan iman yang wajib (nafyul kamal al-wajib), bukan membatalkan atau mengeluarkan seseorang sepenuhnya dari Islam (nafyul ashli).

Artinya, saat seseorang bermaksiat (berzina, meminum khamar, mencuri), indikator keimanannya sedang berada pada titik terendah. Mustahil seseorang yang imannya sedang kokoh dan sempurna secara sadar menerjang larangan-larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kemaksiatan terjadi karena hawa nafsunya mengalahkan imannya pada saat itu.

Meluruskan Pemahaman: Dosa Besar Tidak Mengeluarkan dari Islam

Hal penting yang perlu kita luruskan bersama: Pelaku dosa besar tidak otomatis keluar dari agama Islam (bukan kafir).

Pemikiran keliru (pemahaman Khawarij) yang menganggap setiap pelaku maksiat langsung murtad atau auto-logout dari Islam adalah pemahaman yang batil dan berbahaya. Pemikiran ekstrem inilah yang menjadi akar pengkafiran sepihak hingga menghalalkan darah dan harta sesama muslim.

Dalam aqidah Ahlus Sunnah, pelaku dosa besar selama tidak menghalalkan dosanya (istihlal) dan tidak melakukan syirik akbar tetaplah berstatus muslim, namun ia adalah seorang mukmin yang tidak sempurna imannya (fasiq/mu'min naqisul iman).

Hakikat Cinta: Cinta Memerlukan Pembuktian

Pada halaman 163 kitab syarah disebutkan bahwa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala terbagi menjadi dua tingkatan:

  1. Kecintaan yang Wajib (Al-Mahabbah al-Wajibah): Tingkatan cinta yang menuntut seorang hamba untuk mencintai apa saja yang Allah perintahkan (perkara wajib) dan membenci apa saja yang Allah benci (perkara haram).
  2. Kecintaan kepada Orang-Orang yang Saleh: Mencintai para nabi, rasul, sahabat, dan orang-orang beriman yang mencintai Allah, serta berusaha meneladani amal shaleh mereka.

Cinta sejati selalu menuntut pembuktian nyata. Seseorang tidak bisa sekadar berikrar lisan bahwa ia mencintai Allah, sementara ia meninggalkan shalat lima waktu yang merupakan perkara paling dicintai oleh Allah.

Penyair mengungkapkan bait hikmah yang masyhur:

تَعْصِي الإِلَهَ وَأَنْتَ تُظْهِرُ حُبَّهُ ... هَذَا مَحَالٌ فِي القِيَاسِ بَدِيعُ
لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقًا لأَطَعْتَهُ ... إِنَّ المُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيعُ
"Engkau bermaksiat kepada Rabbmu sembari menampakkan cinta kepada-Nya,
Sungguh, perumpamaan ini sungguh ganjil dan mustahil.
Seandainya cintamu itu jujur, niscaya engkau akan menaati-Nya,
Karena sesungguhnya orang yang mencintai akan tunduk patuh kepada yang ia cintai."

Syair ini tidak menafikan cinta sama sekali, melainkan menegaskan bahwa kemaksiatan adalah bukti bahwa cinta kepada Allah sedang tidak sempurna. Hawa nafsu pada saat itu telah mengaburkan kejujuran cintanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Doa Meraih Kecintaan Allah

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam mengajarkan doa yang mencakup seluruh kebaikan (hal. 164):

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang-orang yang mencintai-Mu, dan kecintaan kepada amalan yang mendekatkanku kepada kecintaan-Mu."

Doa ini merangkum tiga permohonan agung:

  1. Memohon karunia cinta kepada Allah: Sumber dari segala kebaikan hati.
  2. Memohon cinta kepada orang-orang yang mencintai Allah: Mencintai para nabi, rasul, sahabat, dan ulama yang bertakwa.
  3. Memohon cinta terhadap amal ketaatan: Sebab banyak orang mengaku ingin dekat dengan Allah, namun merasa berat melangkahkan kaki ke masjid, malas berdzikir, dan enggan meninggalkan maksiat.

Apa yang dicintai oleh hati akan dieksekusi oleh anggota badan. Bila hati condong pada popularitas atau materi, raga akan lelah mengejarnya. Namun bila hati mencintai Allah, anggota badan akan ringan melangkah dalam ketaatan.

Menjaga Kesucian Agama dari Noda Dosa

Menjauhi maksiat hakikatnya bukan sekadar upaya menghindari azab Allah, melainkan perlindungan preventif untuk menjaga agama dan kehormatan diri sendiri.

Ibarat seseorang mengenakan pakaian putih bersih:

  • Keimanan adalah pakaian putih tersebut.
  • Dosa dan maksiat adalah noda atau kotoran.

Seseorang yang menyayangi pakaian putihnya tentu akan berhati-hati melangkah agar tidak terpercik lumpur kotoran. Menghindari lumpur dilakukan demi menjaga agar pakaian tetap bersih dan indah. Setiap satu maksiat yang dikerjakan akan menorehkan satu titik hitam di dalam hati, yang jika dibiarkan terus-menerus akan meredupkan cahaya keimanan.

Langkah Praktis Saat Terjatuh dalam Dosa

Apabila kita mendapati diri kita begitu mudah tergelincir dalam perbuatan dosa, lakukan introspeksi (muhasabah):

  1. Pahami Sinyal Bahaya: Kemudahan bermaksiat adalah tanda bahwa indikator iman kita sedang berada di zona merah (low).
  2. Bersegera Bertaubat: Jangan menunda taubat; segera kembali kepada Allah dengan penyesalan yang jujur.
  3. Menuntut Ilmu Syar'i: Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman bahwa hamba-hamba-Nya yang paling takut kepada-Nya hanyalah para ulama (orang berilmu). Ilmu yang benar melahirkan rasa takut (khasy-yah), dan rasa takut itulah yang membentengi seseorang dari jeratan maksiat.

Penutup

Kitab Ahaditsul Iman disusun oleh para ulama agar kita senantiasa membaca, mentadaburi, serta menjaga indikator keimanan kita agar terus bertambah.

Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala keteguhan hati, keistiqamahan di atas iman dan sunnah, serta penerimaan atas setiap amal ibadah yang kita kerjakan. Segala kebenaran datangnya semata-mata dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan segala kekurangan serta kekhilafan murni berasal dari keterbatasan diri pribadi.

Mari kita tutup dengan doa kaffaratul majelis:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
"Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Engkau. Aku memohon ampunan-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu."

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

AdsDonasi Dakwah

Ayo gabung bersama Surau TV dalam menyebarkan dakwah yang mulia ini

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

"Barangsiapa menunjukkan kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya." (HR. Muslim no. 1893).

Klik Donasi

Trending Insight

Advertisement