Kota Suci Makkah bukan hanya sekadar sebuah kota biasa. Ia adalah tanah yang Allah muliakan, tempat berdirinya Baitullah, kiblat kaum Muslimin, dan salah satu syiar Allah yang wajib diagungkan oleh setiap orang beriman.
Di tengah berbagai peristiwa yang terjadi di dunia Islam, seorang Muslim tidak cukup hanya bertanya tentang siapa yang menyerang dan apa alasan di balik sebuah serangan. Lebih jauh dari itu, hendaknya ia bertanya kepada dirinya sendiri: bagaimana seharusnya seorang Muslim memperlakukan sesuatu yang telah Allah muliakan?
Dalam sebuah kajian, Buya Muhammad Elvi Syam ุญูุธู ุงููู mengawali pembahasan dengan menyoroti kabar mengenai serangan kelompok Houthi dari Yaman yang dikaitkan dengan upaya menyerang wilayah Arab Saudi dan mengancam kawasan yang berada di sekitar Makkah dan Madinah.
Peristiwa semacam ini semestinya tidak hanya menimbulkan kemarahan, tetapi juga menjadi momentum untuk kembali memahami kedudukan Kota Suci Makkah bagi umat Islam.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
โSesungguhnya rumah yang pertama kali dibangun untuk manusia ialah yang berada di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.โ(QS. Ali Imran: 96)
Ayat ini menunjukkan kedudukan yang sangat agung dari Baitullah. Makkah adalah tempat berdirinya Ka'bah, kiblat kaum Muslimin dan salah satu pusat syiar Islam.
Karena itu, seorang Muslim tidak sepantasnya memandang Makkah sebagaimana memandang kota-kota lainnya. Ada penghormatan, pengagungan, dan rasa takzim terhadap tanah yang telah Allah muliakan.
Allah juga menyebut Makkah sebagai negeri yang aman. Allah berfirman:
โTidakkah mereka memperhatikan bahwa Kami telah menjadikan negeri yang suci lagi aman, sedangkan manusia dirampas keamanannya dari segenap penjuru?โ(QS. Al-Ankabut: 67)
Keamanan Makkah adalah nikmat besar dari Allah. Maka ketika terjadi ancaman terhadap tanah suci, seorang Muslim semestinya kembali merenungkan: siapakah yang sebenarnya menjaga keamanan Makkah?
Jawabannya adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Mengagungkan Syiar Allah adalah Tanda Ketakwaan
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
โDemikianlah. Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.โ (QS. Al-Hajj: 32)
Ayat ini mengajarkan bahwa pengagungan terhadap syiar Allah bukan sekadar persoalan perasaan. Ia merupakan sesuatu yang berkaitan dengan hati dan ketakwaan seorang hamba.
Makkah dan Ka'bah memiliki kehormatan yang telah ditetapkan oleh Allah. Karena itu, segala tindakan yang menebarkan ketakutan dan mengancam keamanan manusia di tanah suci merupakan perkara yang sangat serius.
Seorang Muslim tentu bersedih ketika mendengar adanya ancaman terhadap tanah suci. Namun kesedihan itu hendaknya tidak berhenti pada kemarahan. Ia harus mendorong kita untuk semakin memahami bagaimana Islam mengajarkan penghormatan terhadap kehormatan-kehormatan yang telah Allah tetapkan.
Belajar dari Kisah Pasukan Bergajah
Al-Qur'an telah mengabadikan sebuah peristiwa besar dalam sejarah Makkah melalui Surah Al-Fil.
Pasukan bergajah datang dengan kekuatan yang besar dengan tujuan menyerang Ka'bah. Namun Allah menunjukkan bahwa sebesar apa pun kekuatan manusia, semuanya berada di bawah kekuasaan-Nya.
Allah berfirman:
โTidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?โ (QS. Al-Fil: 1)
Kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa Ka'bah memiliki kehormatan yang sangat besar. Manusia mungkin menyusun rencana, mengerahkan kekuatan dan memperhitungkan berbagai kemungkinan, tetapi Allah adalah Dzat Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.
Karena itu, setiap peristiwa yang berkaitan dengan Makkah hendaknya membawa hati seorang Muslim kembali kepada Allah.
Jangan Hanya Marah Ketika Makkah Diserang
Ada pelajaran lain yang tidak kalah penting.
Ketika mendengar adanya ancaman terhadap Makkah dan Madinah, seorang Muslim tentu merasa sedih dan marah. Akan tetapi, jangan sampai perhatian kita hanya tertuju kepada ancaman dari luar sementara kita melupakan bagaimana diri kita sendiri memperlakukan syiar-syiar Allah.
Apakah kita sudah benar-benar mengagungkan Ka'bah?
Apakah kita sudah menjaga shalat?
Apakah kita sudah menjaga kehormatan yang Allah perintahkan untuk dijaga?
Apakah ketakwaan benar-benar hidup di dalam hati kita?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini penting untuk direnungkan.
Sebab mengagungkan syiar Allah bukan hanya dengan membela kehormatannya ketika terjadi sebuah ancaman, tetapi juga dengan menaati Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Menjaga Keamanan Tanah Suci
Seorang Muslim dapat mengambil sikap dengan mendoakan keamanan tanah suci dan keselamatan kaum Muslimin yang berada di sana serta doa agar Allah menjaga Makkah dan Madinah serta memberikan keamanan kepada negeri Arab Saudi yang menjadi tempat berdirinya dua tanah suci.
Lebih dari itu, kita hendaknya menyadari bahwa segala bentuk kezaliman adalah sesuatu yang dilarang dalam agama.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadis qudsi bahwa Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menjadikannya haram di antara manusia.
Maka tindakan yang menyebabkan ketakutan, kerusakan dan penderitaan terhadap manusia merupakan sesuatu yang harus dijauhi.
Pada akhirnya, peristiwa yang terjadi hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa Makkah dan Madinah memiliki kedudukan yang agung dalam Islam. Keduanya bukan sekadar wilayah geografis, melainkan tanah yang memiliki kehormatan yang telah Allah tetapkan.
Semoga Allah menjaga Makkah dan Madinah, menjaga kaum Muslimin yang berada di sana, serta memberikan kepada kita hati yang senantiasa mengagungkan syiar-syiar-Nya.
Dan semoga Allah menjadikan kecintaan kita kepada tanah suci bukan hanya sebatas rasa, tetapi juga menjadi sebab semakin kuatnya iman, ketakwaan dan ketaatan kita kepada-Nya.
Sesi Tanya Jawab
1. Bagaimana Status Pernikahan Jika Suami Mengucapkan "Pisah Saja Kita"?
Pertanyaan:
Seorang wanita bertanya mengenai status pernikahannya. Ia dan suaminya telah menikah selama dua tahun. Dalam perjalanan rumah tangga, pernah terjadi konflik. Dalam keadaan emosi, suaminya pernah mengatakan agar ia pulang ke rumah orang tuanya.
Setelah itu, ia meminta maaf kepada suaminya dan mereka kembali berhubungan sebagai suami istri.
Beberapa bulan kemudian, suaminya kembali mengatakan, โPisah saja kita.โ Tidak lama setelah ucapan tersebut, suaminya mendekatinya, memeluknya sambil mengatakan kurang lebih, โAbang peluk, jangan sampai talak abang jatuh.โ Setelah itu mereka kembali melakukan hubungan suami istri.
Ia kemudian bertanya, apakah talak telah jatuh dan bagaimana status pernikahannya?
Jawaban Buya:
Dalam menghadapi rumah tangga, seorang suami hendaknya bersabar dan menjadi suami yang baik. Demikian pula seorang istri hendaknya berusaha menghindari perkara-perkara yang dapat memicu kemarahan dan konflik dalam rumah tangga.
Adapun mengenai talak, perlu dibedakan antara lafaz talak yang sharih (jelas) dan kinayah (sindiran).
Lafaz sharih adalah perkataan yang secara jelas menunjukkan talak. Sementara perkataan seperti โkita pisahโ, โpulanglah ke rumah orang tuamuโ, โkeluar dari rumahโ, dan ungkapan sejenis dapat memiliki beberapa kemungkinan makna.
Perkataan โpisahโ misalnya, bisa bermakna berpisah sebagai suami istri, tetapi juga bisa memiliki makna lain. Karena itu, perkataan seperti ini termasuk lafaz kinayah yang membutuhkan perhatian terhadap niat orang yang mengucapkannya.
Dalam pembahasan yang dinukil dari Syekh Shalih Al-Fauzan, keadaan ketika lafaz kinayah tersebut diucapkan juga dapat menjadi indikator. Misalnya, perkataan tersebut disampaikan dalam keadaan pertengkaran atau kemarahan.
Namun, perkara talak merupakan masalah yang sangat serius. Seorang ustaz dapat memberikan penjelasan dan pandangan, tetapi keputusan hukum yang mengikat terkait status perkawinan perlu dikonsultasikan kepada pihak yang berwenang, seperti pengadilan agama.
Dalam kasus yang ditanyakan, berdasarkan penjelasan yang disampaikan dalam kajian, penanya masih dianggap sebagai istri dari suaminya. Namun untuk kepastian hukum, perkara tersebut tetap perlu dikonsultasikan kepada pihak yang berwenang.
2. Bagaimana Menghadapi Rasa Tidak Percaya Diri dan Gangguan Kecemasan?
Pertanyaan:
Seorang akhwat bertanya karena mengalami gangguan kecemasan yang kemudian menimbulkan keluhan fisik. Ia terkadang merasa pesimis dan merasa tidak pantas bersanding dengan siapa pun.
Di usianya sekarang, ia masih berharap dapat memiliki keluarga, menjadi istri dan ibu yang salehah. Ia telah berusaha berdoa dan berobat, tetapi masih sering merasa sedih dan tidak percaya diri.
Apa yang sebaiknya dilakukan?
Jawaban Buya:
Di antara perkara yang dapat dilakukan adalah memperkuat tauhid dan keimanan kepada Allah.
Dengan mempelajari tauhid, seseorang dapat semakin mengenal Allah, memperkuat tawakal dan memahami iman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.
Karena itu, disarankan untuk memperbanyak belajar tauhid, membaca buku-buku tentang tauhid dan mengkajinya dengan baik.
Dalam kajian juga disampaikan sebuah kisah tentang seseorang yang mengalami kondisi mental yang sangat berat, kemudian mengikuti rehabilitasi yang di dalamnya terdapat kegiatan belajar agama, membaca Al-Qur'an dan mempelajari tauhid. Setelah itu, kondisinya mengalami perubahan.
Namun kisah tersebut bukan berarti semua kasus dapat disamakan. Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda.
Buya kemudian mendoakan agar Allah memberikan kesembuhan, mengabulkan keinginan penanya untuk mendapatkan keluarga, serta memudahkan urusannya.
3. Bagaimana Mengenalkan Manhaj Salaf kepada Keluarga?
Pertanyaan:
Bagaimana cara yang benar dan sesuai Al-Qur'an dan Sunnah dalam mengenalkan manhaj salaf kepada keluarga yang belum memahaminya, bahkan mungkin masih memiliki pemahaman atau amalan yang berbeda?
Bagaimana pula menjaga adab kepada orang tua agar dakwah tidak justru membuat mereka menjauh?
Jawaban Buya:
Cara yang paling penting adalah bergaul dengan akhlak yang mulia.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menekankan akhlak yang baik. Karena itu, seseorang yang sedang belajar agama hendaknya menjadikan ilmu yang dipelajarinya sebagai sebab semakin baiknya akhlak.
Tunjukkan kejujuran, kedisiplinan, perhatian, empati dan kesantunan kepada orang tua.
Jangan sampai setelah seseorang belajar agama, justru ia menjadi mudah menyalahkan orang tua, gemar berdebat dan membuat orang tua merasa jauh.
Sebaliknya, orang tua hendaknya melihat perubahan yang baik:
โAnak saya setelah belajar agama menjadi lebih santun, lebih perhatian, lebih sering menghubungi saya dan selalu meminta doa.โ
Perubahan akhlak seperti ini dapat menjadi sarana dakwah yang sangat kuat.
Dalam berdakwah kepada keluarga, seseorang juga harus memperhatikan kemampuan mereka dalam memahami pembicaraan. Jangan menyampaikan sesuatu dengan cara yang membuat mereka merasa agama ini sulit atau tidak dapat mereka pahami.
Dakwah kepada keluarga hendaknya dilakukan dengan ilmu, hikmah, kesabaran dan akhlak yang baik.
Mengharapkan keluarga mendapatkan hidayah dan mengikuti Sunnah juga merupakan bentuk perhatian dan kebaikan kepada mereka.
4. Mengapa Kita Sering Lalai dari Shalat Padahal Waktunya Sangat Singkat?
Pertanyaan:
Shalat wajib hanya membutuhkan waktu sekitar beberapa menit dan dilaksanakan lima kali sehari. Jika dihitung secara keseluruhan, waktunya tidak sebanding dengan 24 jam yang Allah berikan kepada kita.
Namun mengapa justru waktu yang sedikit dan terpisah-pisah tersebut sering kita lalaikan?
Jawaban Buya:
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan keringanan kepada umat ini.
Dalam peristiwa Isra Mi'raj, kewajiban shalat yang awalnya lima puluh kali dalam sehari semalam menjadi lima kali, tetapi pahalanya tetap seperti lima puluh kali.
Karena itu, kita perlu memahami betapa besar kedudukan shalat dalam agama.
Shalat adalah perkara yang sangat penting. Ia merupakan bagian utama dalam bangunan agama. Jika seseorang meninggalkan shalat, maka ia telah meninggalkan perkara yang sangat besar.
Al-Qur'an juga menggambarkan perkataan penghuni neraka ketika mereka ditanya mengenai sebab mereka masuk ke dalam Saqar. Di antara jawaban mereka adalah:
โKami dahulu tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat.โ
(QS. Al-Muddatstsir: 43)
Maka nasihatnya adalah agar kita menjaga shalat lima waktu dan mengingatkan orang-orang yang berada di sekitar kita mengenai pentingnya shalat.
Bahkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan agar anak-anak dilatih melaksanakan shalat sejak usia tujuh tahun. Tujuannya agar shalat menjadi kebiasaan dan bagian dari kehidupan mereka.
Shalat bukan sekadar rutinitas, tetapi ibadah yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh.
5. Bagaimana Meraih Kekhusyukan dalam Shalat Ketika Pikiran Terus Memikirkan Pekerjaan?
Pertanyaan:
Bagaimana seharusnya seorang hamba menjaga kekhusyukan dalam shalat?
Sering kali seseorang berusaha untuk khusyuk, tetapi ketika sedang shalat justru teringat pekerjaan, hitungan dagangan, deadline dan berbagai urusan dunia.
Ada pula anggapan bahwa seseorang bisa mendapatkan inspirasi ketika sedang shalat. Bagaimana hal tersebut?
Jawaban Buya:
Khusyuk merupakan sesuatu yang sangat penting dalam shalat. Shalat tanpa kekhusyukan diibaratkan seperti jasad tanpa ruh.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa seseorang mendapatkan dari shalatnya sesuai dengan apa yang ia pahami dan hadirkan dalam shalat tersebut.
Karena itu, apabila seseorang justru menjadikan shalat sebagai tempat memikirkan pekerjaan, rencana bisnis, deadline dan urusan dunia, maka hal tersebut perlu dihindari.
Jika kemudian muncul sebuah inspirasi ketika sedang shalat, jangan menjadikan hal itu sebagai tujuan. Yang harus menjadi perhatian utama adalah menghadirkan hati kepada Allah.
Untuk mendapatkan kekhusyukan, seseorang perlu memperhatikan persiapan sebelum shalat dan menjalankan tuntunan yang telah diajarkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Ia juga perlu menjauhi hal-hal yang dapat menghilangkan kekhusyukan.
Shalat adalah saat seorang hamba menghadap Rabb-nya. Karena itu, hati hendaknya berusaha meninggalkan kesibukan dunia dan menghadirkan pengagungan kepada Allah.
Penutup
Sesi tanya jawab tersebut memberikan pelajaran bahwa kehidupan seorang Muslim tidak hanya berkaitan dengan ibadah dalam arti sempit. Persoalan rumah tangga, kondisi diri, hubungan dengan orang tua, dakwah kepada keluarga, shalat hingga kekhusyukan semuanya membutuhkan ilmu dan bimbingan.
Di balik berbagai persoalan tersebut terdapat satu perkara yang selalu kembali kepada kita: memperbaiki hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dengan tauhid yang benar, seorang hamba belajar bertawakal. Dengan ilmu, ia belajar mengambil sikap. Dengan akhlak, ia menjaga hubungan dengan manusia. Dengan shalat, ia menjaga hubungan dengan Rabb-nya.
Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang tunduk kepada-Nya, akhlak yang mulia, keluarga yang diberkahi, serta keteguhan untuk senantiasa mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman generasi salaf.
Wallahu a'lam bish-shawab.
* Faedah Kajian Ilmiah bersama Buya Muhammad Elvi Syam, Lc. MA di Studio Surau TV, Jumat, 18 September 2026, dalam program Buya Menjawab Edisi 18/9/26

