Islam bukan hanya agama yang mengatur perkara-perkara besar dalam kehidupan manusia. Islam juga memberikan perhatian terhadap hal-hal yang mungkin terlihat sederhana, bahkan sering dianggap sepele. Salah satunya adalah kebersihan dan kesucian tubuh.
Memotong kuku, merapikan kumis, membersihkan rambut ketiak, mencukur rambut kemaluan, berkumur-kumur, serta membersihkan hidung merupakan bagian dari ajaran yang dicontohkan Rasulullah ๏ทบ. Perkara-perkara tersebut dikenal sebagai sunan al-fitrah, yakni sunnah-sunnah yang berkaitan dengan kesucian dan kebersihan diri.
Bagi seorang Muslim, kebersihan bukan sekadar persoalan penampilan. Ketika dilakukan dengan niat mengikuti tuntunan Rasulullah ๏ทบ, aktivitas yang sederhana pun dapat bernilai ibadah.
Sunnah yang Sering Dianggap Sepele
Di antara sunan al-fitrah adalah memotong kuku, merapikan kumis, membersihkan rambut ketiak, dan mencukur atau memendekkan rambut di sekitar kemaluan.
Rasulullah ๏ทบ memberikan batasan agar perkara-perkara tersebut tidak dibiarkan terlalu lama. Dalam hadis yang sahih dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, disebutkan bahwa Rasulullah ๏ทบ memberikan batas waktu kepada kaum Muslimin agar tidak membiarkan kumis, kuku, rambut ketiak, dan rambut kemaluan lebih dari empat puluh hari.
Pesan ini menunjukkan bahwa seorang Muslim semestinya memiliki perhatian terhadap kebersihan dirinya. Jangan sampai kuku dibiarkan panjang tanpa kebutuhan, kumis tidak pernah dirapikan, atau rambut ketiak dan kemaluan dibiarkan tumbuh tanpa diperhatikan.
Ini mungkin perkara kecil dalam pandangan manusia. Namun, dalam syariat, perkara kecil yang datang dari Rasulullah ๏ทบ tetap memiliki kedudukan yang besar bagi orang yang mencintai sunnah.
Merapikan Kumis dan Menjaga Fitrah
Khusus mengenai kumis, terdapat hadis yang memberikan peringatan keras bagi orang yang sengaja membiarkannya tanpa dipotong.
Para ulama menjelaskan bahwa teknis merapikan kumis tidak harus dengan cara tertentu. Ia dapat dipotong dengan gunting, dicukur menggunakan alat cukur, atau menggunakan cara lain yang menghasilkan tujuan yang sama, yaitu memendekkannya.
Demikian pula rambut ketiak dan rambut kemaluan. Meskipun terdapat lafaz hadis yang menyebut mencabut rambut ketiak dan mencukur rambut kemaluan, para ulama menjelaskan bahwa yang menjadi tujuan adalah membersihkan dan memendekkannya. Karena itu, rambut tersebut dapat dihilangkan dengan cara yang sesuai selama tujuan syariat tercapai.
Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai semuanya dibiarkan begitu saja hingga melewati batas waktu yang telah ditentukan.
Empat Puluh Hari Bukan Alasan untuk Menunda
Ada kalanya seseorang baru memperhatikan perkara ini setelah rambut ketiaknya sudah panjang, kukunya sudah sangat panjang, atau kumisnya sudah tidak pernah dirapikan dalam waktu yang lama.
Padahal, batas empat puluh hari bukanlah anjuran untuk menunggu sampai hari keempat puluh. Justru seorang Muslim dianjurkan untuk melakukannya sebelum mencapai batas tersebut.
Dengan demikian, menjaga kebersihan tubuh seharusnya menjadi kebiasaan yang teratur. Tidak perlu menunggu sampai terlihat sangat panjang atau mengganggu.
Sunnah mengajarkan kepada kita sebuah kehidupan yang bersih, tertib, dan terjaga.
Tidak Semua Hikmah Syariat Harus Kita Ketahui
Di sinilah terdapat pelajaran yang lebih besar.
Sebagian orang terkadang baru mau menerima sebuah ajaran apabila mereka telah mengetahui alasan ilmiah di baliknya. Mereka bertanya, mengapa harus empat puluh hari? Mengapa harus memotong kuku? Mengapa harus membersihkan rambut ketiak dan kemaluan?
Pertanyaan semacam itu boleh saja muncul dalam rangka mencari ilmu. Namun seorang Muslim harus memahami bahwa kewajiban beriman kepada syariat tidak bergantung pada kemampuan akalnya untuk memahami seluruh hikmahnya.
Allah ๏ทป Mahabijaksana. Sementara ilmu manusia sangat terbatas.
Kita mengetahui sebagian hikmah dari syariat, tetapi banyak pula hikmah yang tidak kita ketahui. Karena itu, ketika sebuah perkara telah sahih datang dari Allah dan Rasul-Nya ๏ทบ, sikap seorang mukmin adalah tunduk dan taat.
Allah ๏ทป berfirman:
โSesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, ialah ucapan: โKami mendengar dan kami taat.โโ
(QS. An-Nur: 51)
Inilah karakter seorang mukmin. Ia tidak menjadikan keterbatasan akalnya sebagai alasan untuk menolak tuntunan wahyu.
Kebersihan yang Menjadi Ibadah
Berkumur-kumur dan menghirup air ke dalam hidung juga termasuk perkara yang diajarkan dalam sunnah.
Dalam wudhu, berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung merupakan amalan yang dikenal luas. Namun praktik kebersihan tersebut tidak semata-mata terbatas pada wudhu. Seorang Muslim dapat melakukannya dalam keadaan lain sebagai bagian dari menjaga kebersihan diri.
Ketika dilakukan dengan niat mengikuti sunnah Rasulullah ๏ทบ, aktivitas yang tampaknya biasa itu menjadi bernilai ibadah.
Di sinilah pentingnya menghadirkan niat.
Seseorang bisa saja berkumur hanya karena merasa mulutnya kurang bersih. Ia bisa saja membersihkan hidung karena merasa terganggu. Namun ketika ia menghadirkan niat untuk mengikuti sunnah Rasulullah ๏ทบ, kebiasaan tersebut memiliki dimensi ibadah.
Membersihkan Tangan Setelah Bangun Tidur
Islam juga mengajarkan agar seseorang membersihkan kedua tangannya setelah bangun tidur.
Rasulullah ๏ทบ mengajarkan agar seseorang mencuci tangannya sebelum memasukkannya ke dalam wadah air, karena ia tidak mengetahui di mana tangannya berada ketika tidur.
Ini adalah bentuk perhatian Islam terhadap kebersihan yang sangat detail.
Seseorang yang sedang tidur tidak menyadari apa yang disentuh tangannya. Karena itu, mencuci tangan setelah bangun tidur merupakan bentuk kehati-hatian sekaligus mengikuti sunnah Nabi ๏ทบ.
Sunnah seperti ini mungkin tampak sederhana. Namun semakin seseorang mempelajari ajaran Islam, semakin ia menyadari bahwa agama ini mengajarkan kebersihan dan keteraturan bahkan dalam perkara yang sering luput dari perhatian manusia.
Istinja dan Kesucian Setelah Buang Hajat
Termasuk perkara penting dalam kebersihan adalah istinja, yaitu membersihkan tempat keluarnya najis setelah buang air.
Islam tidak membiarkan seorang Muslim selesai buang hajat lalu mengabaikan kebersihan dirinya. Kubul dibersihkan setelah buang air kecil, sementara dubur dibersihkan setelah buang air besar.
Pembahasan mengenai istinja juga berkaitan erat dengan adab buang hajat. Ini menunjukkan bahwa perhatian Islam terhadap kebersihan bukan sekadar teori, melainkan diwujudkan dalam tuntunan praktis sehari-hari.
Allah Mencintai Kebersihan dan Kesucian
Pada akhirnya, seluruh pembahasan sunan al-fitrah mengingatkan kita bahwa seorang Muslim seharusnya memiliki perhatian terhadap kebersihan lahir maupun batin.
Allah ๏ทป berfirman:
โSesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.โ
(QS. Al-Baqarah: 222)
Kesucian bukan hanya pakaian yang bersih. Bukan hanya tubuh yang rapi. Lebih jauh daripada itu, seorang Muslim juga dituntut untuk membersihkan hati dari kesyirikan, penyakit hati, kebencian, kesombongan, dan berbagai perkara yang mengotori jiwa.
Karena itu, sunan al-fitrah semestinya tidak berhenti pada rutinitas fisik. Ia seharusnya menjadi pengingat bahwa seorang Muslim sedang belajar hidup sesuai dengan fitrah yang Allah cintai.
Tunduk kepada Sunnah, Meskipun Hikmahnya Belum Kita Pahami
Ada pelajaran penting dari perkara-perkara sederhana ini: ketaatan tidak selalu menunggu pemahaman terhadap seluruh hikmah.
Kita tidak harus mengetahui seluruh rahasia di balik perintah Allah untuk melaksanakannya.
Seorang hamba beriman karena ia mengetahui bahwa Allah adalah Rabb-nya dan Muhammad ๏ทบ adalah Rasul-Nya. Jika telah datang petunjuk yang sahih dari Rasulullah ๏ทบ, maka sikapnya adalah mendengar dan menaati.
Boleh jadi hari ini kita belum mengetahui hikmahnya. Boleh jadi penelitian manusia belum mampu menjelaskan seluruh manfaatnya. Tetapi keterbatasan pengetahuan manusia tidak berarti syariat itu tidak memiliki hikmah.
Justru di sinilah letak kesempurnaan iman: percaya kepada Allah dan Rasul-Nya ๏ทบ, tunduk kepada petunjuk-Nya, serta meyakini bahwa apa yang Allah syariatkan pasti mengandung hikmah dan kebaikan, meskipun sebagian hikmah itu belum mampu kita jangkau.
Maka jangan meremehkan sunnah hanya karena bentuknya sederhana.
Memotong kuku adalah perkara sederhana.
Merapikan kumis adalah perkara sederhana.
Membersihkan rambut ketiak dan rambut kemaluan adalah perkara sederhana.
Berkumur dan membersihkan hidung adalah perkara sederhana.
Mencuci tangan setelah bangun tidur adalah perkara sederhana.
Namun ketika semua itu dilakukan karena kecintaan kepada Rasulullah ๏ทบ dan keinginan untuk mengikuti sunnahnya, perkara sederhana tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan seorang hamba menuju ketaatan.
Sebab ukuran sebuah amal bukan semata-mata seberapa besar ia terlihat di mata manusia, tetapi seberapa ikhlas ia dilakukan dan seberapa sesuai ia dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya ๏ทบ.
Semoga Allah memberikan kepada kita kecintaan kepada sunnah Rasulullah ๏ทบ, memudahkan kita untuk mengamalkannya, serta menjadikan kebersihan lahir dan kesucian batin sebagai bagian dari kehidupan kita.
Wallahu a'lam bish-shawab.
* Faedah Kajian Kitab bersama Ustadz Muhammad Sulthon Annasiro, BA di Studio Surau TV, Jumat, 18 September 2026, dalam pembahasan Kitab Fiqih Al Wajiz : Bab - Thaharah (Bersuci) - Bagian 8

