Artikel

Suluah Minang: Bancano Siliah Baganti

D

Posted by. Deli Hermanto

30 September 2026 14:03 • 18 view

Share:
Suluah Minang: Bancano Siliah Baganti
Ilustrasi. (Gemini AI Pro)

Dialog Interaktif: Menyingkap Hakikat dan Hikmah di Balik Musibah (Terjemahan Bahasa Indonesia)

Program : Suluah Minang: Bancano Siliah Baganti

Narasumber : Ustadz Taufik Zulfahmi, MA

Host : Mamak Ediwarman & Ajo Doni Ramadhan

Host :

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Buya:

“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh.”

Host :

Tema kita malam ini berkaitan dengan bencana. Selama ini kita kerap memandang bencana sekadar fenomena alam. Padahal dalam keseharian kita—seperti keretakan hubungan rumah tangga, perselisihan antartetangga, dan perpecahan dunsanak—itu pun sejatinya bentuk bencana tersendiri.

Para pemirsa dan dunsanak di mana pun berada, baik yang di kampung halaman maupun di perantauan: mari kita kaji lebih dalam agar dapat memetik hikmahnya. Kerap kali kita mengira musibah itu hanya sebatas gempa, banjir, atau tanah longsor. Padahal, ketika seseorang enggan mendirikan salat berjamaah atau abai bertanggung jawab terhadap keluarganya, itu pun bencana moral dan spiritual yang besar.

Malam ini kita akan mengulas tuntas bersama Buya: bencana yang disebabkan oleh alam, bencana yang datang tanpa diduga, hingga bencana yang diundang oleh ulah manusia itu sendiri. Kepada Buya, kami persilakan.

Muqaddimah: Bencana di Akhir Zaman dan Penyebabnya

Buya:

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah.

Para pemirsa Surau TV yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita sejatinya telah berada di fase akhir zaman—masa-masa yang kian mendekati hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis sahih telah mengabarkan bahwa pada akhir zaman akan banyak terjadi musibah besar. Beliau bersabda bahwa akan terjadi tiga peristiwa:

  1. Khasf (dibenamkannya manusia/tanah ke dalam bumi),
  2. Qadzf (dilempari batu dari langit), dan
  3. Maskh (perubahan rupa manusia menjadi bentuk yang lebih buruk).

Ketika para sahabat bertanya, "Kapan hal itu terjadi, ya Rasulullah?" Nabi menjawab: ketika alat-alat musik merajalela, para biduan wanita menjamur di mana-mana, dan khamar (minuman keras) dihalalkan.

Peristiwa semacam ini memiliki preseden sejarah. Contohnya azab terhadap kaum Nabi Luth ‘alaihissalam akibat perbuatan keji yang belum pernah dilakukan umat sebelumnya. Allah membalikkan bumi mereka dan menghujani mereka dengan batu-batu dari tanah yang terbakar secara bertubi-tubi. Jika kita lihat fenomena masa kini—seperti likuifaksi di mana tanah amblas mencair dan menelan perkampungan—itu adalah bukti nyata yang sebelumnya sulit dinalar manusia.

Secara syariat, salah satu faktor utama pengundang bencana adalah dosa dan maksiat manusia, sebagaimana firman Allah:

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu juga menegaskan:

“Tidaklah turun suatu bala/musibah melainkan karena dosa, dan tidaklah musibah itu diangkat melainkan dengan tobat.”

Mengapa Orang Beriman Ikut Tertimpa Musibah?

Timbul pertanyaan: jika bencana turun karena dosa, mengapa orang-orang beriman, alim ulama, dan anak-anak turut tertimpa?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim:

“Apabila Allah menurunkan azab kepada suatu kaum, maka azab itu akan menimpa siapa saja yang berada di tengah-tengah mereka. Kemudian, mereka akan dibangkitkan pada hari kiamat sesuai dengan niat dan amal perbuatan masing-masing.”

Bencana alam tidak memilah korban secara lahiriah; rumah ibadah, orang saleh, maupun pendosa bisa terkena dampaknya. Salah satu dosa kolektif yang kerap mengundang bencana umum adalah meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar (tidak lagi peduli dan membiarkan kemaksiatan merajalela di lingkungannya).

Bagi seorang mukmin, musibah yang menimpa memiliki hikmah dan fungsi tersendiri:

  1. Pintu Masuk Surga dan Ujian Keimanan: Allah menguji kadar iman seorang hamba sebagaimana firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah ayat 214, bahwa orang-orang sebelum kita digoncang cobaan berat sebelum pertolongan Allah tiba.
  2. Pahala Besar dan Pengganti yang Lebih Baik: Orang beriman yang mengucapkan istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) dan membaca doa: “Allahumma’jurni fi mushibati wa akhlifli khairan minha” (Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibah ini dan gantikanlah dengan yang lebih baik), niscaya Allah kabulkan sebagaimana kisah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha.
  3. Pelebur Dosa di Dunia: Mengalami kesulitan di dunia jauh lebih ringan dibanding menanggung siksa di akhirat, di mana seringan-ringannya azab akhirat adalah membuat otak mendidih.

Sesi Tanya Jawab Pemirsa

Pertanyaan 1: Fokus Pasca-Bencana vs Pencegahan Kemaksiatan

Penanya:

“Assalamu’alaikum Buya. Apakah kita hanya sibuk memperbaiki infrastruktur fisik setelah bencana datang, atau seharusnya kita lebih fokus memperbaiki kerusakan hati, akhlak, dan memberantas kemaksiatan sebelum bencana itu tiba?”

Buya:

Tentu membantu korban dan merehabilitasi kerusakan fisik pasca-bencana adalah kewajiban sosial dan bernilai pahala (ta'awun). Namun, yang kerap dilupakan adalah akar masalahnya.

Musibah itu terbagi dua:

  • Musibah Dunia: Hilangnya harta, runtuhnya bangunan, atau rusaknya jalan.
  • Musibah Agama: Anak-istri meninggalkan salat, merebaknya perzinaan, dan ketidaktahuan terhadap syariat.

Musibah agama jauh lebih berbahaya daripada musibah dunia. Kita rela menggelontorkan miliaran rupiah untuk membangun kembali jembatan dan jalan, namun sering abai terhadap pembinaan akidah dan TPA/madrasah. Solusi hakiki agar terhindar dari murka Allah adalah tobat nasuha serta perbaikan moral dan agama secara kolektif.

Pertanyaan 2: Menyandarkan Bencana pada Kemaksiatan Tertentu

Penanya:

“Bolehkah seorang muslim secara tegas mengatakan bahwa suatu bencana terjadi spesifik karena maksiat tertentu (misalnya pesta musik dan biduan)? Bagaimana batasannya?”

Buya:

Kita harus membedakan antara Sebab Hakiki dan Sebab Lahiriah/Syariat:

  • Sebab Hakiki: Segala sesuatu terjadi atas izin dan ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  • Sebab Lahiriah: Berdasarkan nash syar’i, perbuatan dosa (seperti perzinaan, musik bebas, khamar) adalah faktor penarik murka Allah.

Secara kaidah umum, kita wajib meyakini bahwa kemaksiatan mengundang bencana. Sains mungkin menjelaskannya lewat istilah geologis (seperti pergeseran lempeng atau likuifaksi), namun dalam pandangan tauhid, fenomena alam itu digerakkan oleh Allah sebagai konsekuensi sunnatullah dan peringatan atas dosa hamba-Nya. Kita tidak boleh memastikan secara mutlak vonis pribadi kepada individu tertentu, namun menjadikannya sebagai pelajaran (ibrah) bahwa maksiat mengundang bala adalah prinsip syariat yang benar.

Pertanyaan 3: Batasan Mengingkari Kemungkaran

Penanya:

“Ketika melihat judi, zina, miras, dan pergaulan bebas, apakah kita cukup mengingkari dalam hati, atau wajib mencegah secara langsung?”

Buya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan tingkatan nahi mungkar:

  1. Dengan Tangan (Kekuasaan/Otoritas): Dilakukan oleh pihak yang memiliki wewenang (pemerintah/aparat terhadap publik, atau seorang ayah/kepala keluarga di dalam rumah tangganya).
  2. Dengan Lisan: Nasihat santun, teguran lisan, ceramah, atau dakwah edukatif.
  3. Dengan Hati: Membenci maksiat tersebut dan tidak ridha berada di lingkungan itu. Ini adalah selemah-lemah iman.

Jika seseorang memiliki kapasitas mencegah dengan lisan atau kekuasaan namun memilih diam karena sikap acuh tak acuh (apatis), maka ia berdosa karena mengabaikan kewajiban nahi mungkar.

Pertanyaan 4: Mengatasi Trauma Masa Lalu

Penanya:

“Bagaimana caranya agar kita tidak terus-menerus terjebak dalam trauma masa lalu? Apakah mengingat-ingat musibah yang lewat itu bentuk was-was setan?”

Buya:

Kunci utama mengobati trauma dan luka batin adalah beriman kepada takdir Allah (qadha dan qadar) serta selalu berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah. Yakinlah pada prinsip: Al-khairu kulluhu lillah (segala ketetapan Allah pada hakikatnya mengandung kebaikan).

Sebagaimana kisah seorang menteri bijak yang mendampingi raja. Ketika jari sang raja terpotong akibat kecelakaan, sang menteri tetap berkata, "Ini adalah kebaikan." Raja marah dan memenjarakannya. Namun tak lama kemudian, saat berburu, raja ditangkap suku pedalaman untuk dijadikan tumbal persembahan. Raja akhirnya dilepaskan karena fisiknya cacat (jarinya buntung), sebab syarat tumbal haruslah manusia sempurna. Raja pun sadar bahwa kehilangan jari telah menyelamatkan nyawanya, dan sang menteri yang dipenjara pun selamat karena tidak ikut dalam perburuan maut tersebut.

Ingatlah firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 155:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Perhatikan kata "sedikit" (bi-syai'in). Allah menegaskan bahwa porsi ujian itu hanya sedikit dibanding curahan nikmat yang tak terhitung jumlahnya.

Hakikat Kesabaran yang Sejati

Sabar memiliki tiga pilar utama:

  1. Menahan Lisan: Tidak mengeluh, mencela takdir, atau meratap berlebihan.
  2. Menahan Hati: Tidak dongkol atau berprasangka buruk kepada Allah.
  3. Menahan Anggota Badan: Tidak memukul pipi, merobek pakaian, atau merusak barang.

Puncak pahala sabar berada pada benturan pertama musibah (ash-shabru ‘inda shadmatil ula). Teladan terbaik terlihat pada Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha saat putranya meninggal dunia. Ia merawat jenazah sang anak secara tenang, menyiapkan hidangan terbaik untuk suaminya (Abu Thalhah) yang baru pulang bekerja tanpa langsung memberi kabar duka, hingga melayaninya.

Setelah suaminya tenang, barulah Ummu Sulaim bertanya: "Wahai suamiku, jika ada tetangga meminjamkan barang kepada kita, lalu ia memintanya kembali, bolehkah kita menahannya?" Abu Thalhah menjawab: "Tentu tidak." Ummu Sulaim pun dengan tabah berkata: "Sesungguhnya anak kita hanyalah titipan Allah, dan kini Allah telah mengambilnya kembali."

Kesedihan dan air mata adalah fitrah manusiawi yang wajar, namun hati dan lisan tetap harus tunduk pada keridhaan Allah:

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Host:

Alhamdulillah, terima kasih banyak kepada Buya atas ilmu dan pencerahan yang sangat berharga. Semoga dunsanak dan pemirsa sekalian dapat memetik hikmah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan selama memandu acara.

Wabillahi taufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

* Faedah Ilmiah Kajian Berbahasa Minang bersama Ustadz Taufik Zulfahmi, MA, Mamak Ediwarman & Ajo Doni Ramadhan dalam Program Suluah Minang "Bancano Siliah Baganti", Selasa, 29 September 2026

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!