Artikel

Dari Mana Kita Mengambil Aqidah & Tiga Landasan Pokok yang Wajib Diketahui

D

Posted by. Deli Hermanto

25 September 2026 15:57 • 28 view

Share:
Dari Mana Kita Mengambil Aqidah & Tiga Landasan Pokok yang Wajib Diketahui
Ilustrasi. (Gemini AI Pro)

Pertemuan 2: 100 Tanya Jawab Aqidah Tauhid

Karya: Syaikh Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdullah as-Sadhan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Segala puji dan syukur senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala limpahan nikmat-Nya. Tanpa pertolongan dan nikmat dari-Nya, aktivitas kebaikan yang kita rencanakan tidak akan pernah terlaksana. Semuanya semata-mata karena taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hakikat taufik adalah: Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membiarkan urusanmu diserahkan kepada dirimu sendiri. Artinya, Allah senantiasa menolong dan membimbing kita. Kebalikannya adalah khidlan, yaitu saat Allah membiarkan hamba bersandar pada kelemahan dirinya sendiri.

Oleh karena itu, setiap pagi dan petang kita diajarkan memanjatkan doa:

“Yaa Hayyu Yaa Qayyum, bi rahmatika astaghitsu, ashlih lii sya’nii kullahu, wa laa takilnii ilaa nafsii tharfata ‘ain.”
(Wahai Rabb Yang Maha Hidup, Yang Maha Berdiri Sendiri, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan. Perbaikilah seluruh urusanku, dan jangan Engkau serahkan urusanku kepada diriku sendiri walau sekejap mata).

Kami mengingatkan diri kami sendiri bahwa pembicara tidaklah lebih berilmu dari para pendengar. Apabila nantinya terdapat kekeliruan atau kekurangan, mohon masukan dan koreksi dengan lapang dada.

Pada pertemuan sebelumnya, kita telah membahas muqaddimah kitab serta Pertanyaan Pertama: “Mengapa kita wajib mempelajari tauhid?”

Jawabannya: Karena tauhid adalah pokok dari segala pokok (ashlul ushul), tujuan utama penciptaan jin dan manusia (QS. Adz-Dzariyat: 56), tujuan diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab suci, serta pembeda antara iman dan kufur yang menentukan tempat kembali manusia di surga atau neraka.

Pertanyaan Kedua: Dari Mana Kita Mengambil Aqidah?

Teks Soal & Jawaban:

  • Soal: Min aina na’khudzu ‘aqiidatana? (Dari mana kita mengambil aqidah kita?)
  • Jawaban: Minal Qur’ani was-Sunnah ‘ala fahmi salafil ummah. (Dari Al-Qur'an dan Sunnah menurut pemahaman salafus shalih—para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Penjelasan:

1. Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah Aqidah yang Shahih dan Murni

Aqidah ini terjamin kemurniannya karena merujuk kepada tiga kurun generasi terbaik (al-qurun al-mufadhdhalah). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’in), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’ut tabi’in).” (HR. Bukhari & Muslim)

Zaman keemasan Islam sejati adalah generasi para sahabat dan salafus shalih, bukan sekadar puncak peradaban materi pada masa Dinasti Abbasiyah. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah meridhai mereka:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah...” (QS. At-Taubah: 100).

2. Aqidah Bersifat Tauqifiyyah

Makna tauqifiyyah adalah perkara aqidah tidak boleh ditetapkan kecuali berdasarkan dalil yang jelas dari wahyu (Al-Qur'an dan As-Sunnah yang shahih). Akal atau logika semata tidak memiliki otoritas menetapkan perkara gaib—seperti surga, neraka, dan azab kubur—karena tidak ada yang lebih mengetahui perkara gaib melainkan Allah dan rasul-Nya.

3. Jaminan Keselamatan dari Kesesatan

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.” (HR. Malik).

Terkait hadits perpecahan umat menjadi 73 golongan, kelompok yang selamat (al-firqah an-najiyah) hanyalah satu, yaitu Ahlus Sunnah Wal Jama'ah yang meniti jalan Rasulullah dan para sahabatnya. Adapun 72 golongan lainnya terancam siksa neraka karena penyimpangan, kebid'ahan, atau maksiat mereka. Penyimpangan tersebut ada yang sampai pada derajat kufur/syirik akbar, dan ada pula yang di bawah derajat kekufuran.

Pertanyaan Ketiga: Tiga Landasan Pokok yang Wajib Diketahui

Teks Soal & Jawaban:

  • Soal: Ma hiya tsalatsatul ushul allati yajibu ‘alal insani ma’rifatuha wallati yus’alu ‘anha fil qabri? (Apakah tiga landasan pokok yang wajib diketahui manusia dan akan ditanyakan di alam kubur?)
  • Jawaban: Ma’rifatul ‘abdi Rabbahu, wa Dhanahu, wa Nabiyyahu Muhammadan Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Mengenal Rabb-nya, mengenal agamanya, dan mengenal Nabi-nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Hadits Al-Bara’ bin ‘Azib Radhiyallahu ‘anhu

Pertanyaan kubur ini didasarkan pada riwayat shahih yang panjang dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu. Ketika menyertai jenazah seorang sahabat Anshar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk menghadap kiblat, dan para sahabat duduk khusyuk mengelilingi beliau seakan-akan ada burung di atas kepala mereka. Beliau lalu memohon perlindungan dari azab kubur sebanyak dua atau tiga kali.

Penegasan Azab Kubur:

Azab kubur adalah haq (nyata). Menolak kabar azab kubur—dengan dalih haditsnya berstatus Ahad—merupakan penyimpangan akidah yang berbahaya. Selama sanad hadits berstatus shahih, wajib diimani sepenuhnya.

Perjalanan Ruh Mukmin:

Ketika seorang mukmin menjelang ajal, malaikat turun membawa kain kafan dan wewangian dari surga. Ruh dicabut dengan sangat lembut bagaikan tetesan air yang mengalir dari bibir teko. Ruh tersebut dibawa menembus pintu-pintu langit ketujuh hingga Allah berfirman: “Catatlah kitab hamba-Ku ini di ‘Illiyyin, dan kembalikanlah ia ke bumi, karena darinyalah Aku menciptakan mereka.”

Ujian di Alam Barzakh:

Ruh dikembalikan ke jasadnya, lalu dua malaikat mendudukkannya dan mengajukan tiga pertanyaan pokok:

  1. Man Rabbuka? (Siapa Rabbmu?)
  2. Ma Dinuka? (Apa agamamu?)
  3. Man Nabiyyuka? (Siapa Nabimu?)

Seorang mukmin dengan taufik Allah akan menjawab: “Rabbku adalah Allah, agamaku Islam, dan Nabiku Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Maka terdengarlah seruan dari langit agar dibentangkan baginya permadani surga, dibukakan pintu menuju surga, serta ditemani oleh amal shalihnya yang menjelma menjadi sosok berwajah rupawan.

Tanya Jawab

1. Bagaimana hukum gambar makhluk bernyawa dalam perkembangan teknologi saat ini?

Jawaban:

Syariat melarang menggambar atau membentuk makhluk yang memiliki ruh (bernyawa). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa orang yang paling keras azabnya pada hari kiamat adalah para perupa (al-mushawwirun) yang menandingi ciptaan Allah.

Terkait media pendidikan atau dakwah:

  • Hindari menampilkan rupa wajah secara utuh dan detail, khususnya bagian mata, kepala, atau bentuk anatomis yang sempurna. Sebagian ulama memberi keringanan apabila wajah dihilangkan/dikosongkan, atau dibuat sekadar siluet tanpa mata dan hidung.
  • Menggambar objek tidak bernyawa (seperti pemandangan, pepohonan, atau benda mati) hukumnya diperbolehkan.
  • Waspadai pula gim digital anak-anak yang menyisipkan ritual kesyirikan (seperti menyembah patung untuk menambah kekuatan atau nyawa), karena hal itu merusak aqidah tauhid sejak dini.

2. Bagaimana kiat agar tetap istiqamah di atas nikmat iman?

Jawaban:

Istiqamah dimaknai sebagai keteguhan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah di mana pun berada. Kiat-kiatnya antara lain:

  1. Menuntut Ilmu Syar'i: Memahami tauhid dan keagungan Allah secara benar.
  2. Muraqabatullah: Menumbuhkan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi gerak-gerik hamba-Nya di setiap waktu dan tempat.
  3. Mencari Lingkungan dan Sahabat Shalih: Teman bergaul memiliki pengaruh besar terhadap agama seseorang. Tinggalkan pertemanan yang hanya menjerumuskan pada kelalaian dan maksiat.

3. Bagaimana menguatkan hati terhadap takdir saat tertimpa ujian hidup yang berat?

Jawaban:

Rukun iman keenam mengajarkan bahwa segala ketetapan takdir telah tertulis 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Menangis karena sedih merupakan tabiat manusiawi dan diperbolehkan, asalkan tidak disertai sikap meratap (niyahah) atau memprotes takdir Allah.

Jika manusia merasa tenang ketika kebutuhan hidupnya dijamin oleh seorang penguasa atau presiden, tentulah keyakinan kepada Allah—Rabb semesta alam—harus jauh lebih kokoh. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan dalam hadits qudsi bahwa Allah berfirman: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” Maka tanamkan senantiasa sikap husnuzhan dan optimisme kepada ketetapan-Nya.

4. Apakah pertanyaan kubur berlaku bagi semua manusia, termasuk orang kafir?

Jawaban:

Ya, fitnah kubur dialami oleh seluruh manusia. Bagi orang kafir atau munafik, ruhnya dicabut dengan sangat keras laksana besi bercabang yang ditarik dari kain wol basah. Ketika ruhnya dikembalikan ke jasad dan diajukan tiga pertanyaan, ia tidak mampu menjawab dan hanya berkata terbata-bata: “Hah, hah, laa adri...” (Aku tidak tahu, aku hanya mendengar orang-orang mengatakannya).

5. Apakah setelah menjawab pertanyaan kubur seorang mukmin langsung masuk ke surga?

Jawaban:

Tidak langsung masuk surga secara fisik, karena surga hakiki dimasuki setelah berakhirnya kiamat kubra. Akan tetapi:

  • Kuburnya dijadikan taman dari taman-taman surga (raudhah min riyadhil jannah).
  • Dibukakan jendela menuju surga sehingga ia dapat mencium keharumannya dan diperlihatkan tempat tinggalnya setiap pagi dan petang.
  • Ia tetap akan melewati fase-fase Hari Kiamat berikutnya: Yaumul Ba’ats (Hari Kebangkitan), Yaumul Mahsyar (Pengumpulan di Padang Mahsyar), Hisab, Mizan, telaga (Haudh), dan melintasi jembatan Ash-Shirath.

* Faedah Kajian Ilmiah Pegawai YDEI bersama Ustadz Ridho Handika Putra dari Darul Hadits Sayhut, Yaman, Jumat, 25 September 2026, dalam pembahasan Kitab 100 Tanya Jawab Mengenai Tauhid (Pertemuan ke-2)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!