Artikel

Mengenal Makna Al-Qaadir (القادر), Al-Qadiir (القدير), dan Al-Muqtadir (المقتدر)

D

Posted by. Deli Hermanto

28 September 2026 21:09 • 17 view

Share:
Mengenal Makna Al-Qaadir (القادر), Al-Qadiir (القدير), dan Al-Muqtadir (المقتدر)
Ilustrasi. (Gemini AI Pro)

Kajian Asmaul Husna: Mengenal Makna Al-Qādir (القادر), Al-Qadīr (القدير), dan Al-Muqtadir (المقتدر)

Narasumber : Buya Asmon Nurijal, Lc


Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah,

Sesungguhnya Allah senantiasa memuliakan kita dalam kondisi apa pun. Bahkan di tengah musibah sekalipun, nikmat Allah hakikatnya senantiasa jauh lebih banyak dibandingkan ujian yang menimpa kita. Kewajiban seorang hamba adalah senantiasa bersabar atas cobaan dan bersyukur atas limpahan kenikmatan.

Salah satu penyebab binasanya umat-umat terdahulu adalah sikap mereka yang ingkar:

  • Ketika diuji dengan bencana, penderitaan, dan kesulitan, mereka enggan tunduk kepada Allah, tidak bersabar, serta tidak menyadari dosa-dosa mereka.
  • Ketika ujian tersebut diganti dengan kelapangan, kemudahan, dan kesenangan, mereka tidak bersyukur, enggan mengakui karunia Allah, dan menolak kenyataan bahwa musibah sebelumnya timbul akibat maksiat mereka.

Karena itulah Allah menimpakan azab secara tiba-tiba saat mereka berada dalam kelalaian.

Terkait musibah yang menimpa sebagian saudara kita saat ini, kita tidak boleh berpangku tangan. Wajib bagi kita untuk mengambil peran membantu sesuai kapasitas masing-masing:

  • Jika diberi kelebihan harta, bantulah dengan harta.
  • Jika memiliki tenaga, bantulah dengan tenaga.
  • Jika dapat menyumbangkan pemikiran atau keahlian, berikanlah.
  • Sekurang-kurangnya, panjatkanlah doa yang tulus bagi mereka.

Semoga musibah ini menjadi penggugur dosa dan Allah karuniakan pahala berlimpah di sisi-Nya atas kesabaran dan keridaan mereka dalam menghadapi takdir ini.

Al-Qādir (القادر), Al-Qadīr (القدير), dan Al-Muqtadir (المقتدر)

Kita lanjutkan pelajaran kita pada pasal ketiga, yaitu deretan nama-nama Allah yang menumbuhkan sikap muraqabah (kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi, melihat, mendengar, serta mengetahui seluruh perbuatan hamba-Nya, dan bahwasanya Dialah yang akan memberi balasan secara adil). Sikap ini mendorong seorang mukmin bersemangat menunaikan ketaatan dan menjauhi maksiat karena takut akan azab-Nya.

Tiga nama agung ini—Al-Qādir, Al-Qadīr, dan Al-Muqtadir—berakar dari kata yang sama, yakni al-qudrah (kekuasaan/kemampuan). Ketiganya menunjukkan kesempurnaan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala, dengan penekanan makna masing-masing:


1. Al-Qādir (القادر)

Secara gramatikal (ilmu sharaf) merupakan bentuk ismul fā'il (pelaku/yang berkuasa). Nama ini tercantum antara lain dalam firman-Nya:

"Katakanlah: Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain..." (QS. Al-An'am: 65).

2. Al-Qadīr (القدير)

Bentuk fā'īl yang menunjukkan sifat kekuasaan mutlak yang terus-menerus dan sempurna tanpa batas. Nama ini sangat sering diulang di dalam Al-Qur'an (seperti dalam penutup ayat: innallāha 'alā kulli syai'in qadīr).

3. Al-Muqtadir (المقتدر)

Secara kaidah bahasa Arab, ziyādatul mabnā tadullu 'alā ziyādatil ma'nā (penambahan huruf pada bentuk kata menunjukkan penambahan/penguatan makna). Kata Al-Muqtadir mengandung penambahan huruf yang menegaskan betapa mutlak dan dahsyatnya kekuasaan Allah. Nama ini disebutkan dalam Al-Qur'an:

"Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Raja Yang Maha Kuasa (Al-Muqtadir)." (QS. Al-Qamar: 54–55).

Cakupan Kekuasaan Allah (Qudratullah)

Kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala meliputi segala sesuatu tanpa ada kelemahan, keletihan, maupun batasan:

  • Menciptakan dan Mengatur Alam Semesta: Mengadakan seluruh makhluk dari tiada, menyempurnakan bentuknya, dan memeliharanya tanpa tiang penyangga.
  • Menghidupkan dan Mematikan: Membangkitkan seluruh umat manusia di hari kiamat sama mudahnya bagi Allah seperti menghidupkan satu jiwa saja (Kun fa yakūn).
  • Membolak-balikkan Hati: Mengarahkan, memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan membiarkan sesat siapa yang berpaling dari kebenaran berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya yang sempurna.
  • Bukti Nyata pada Diri dan Alam: Segala sesuatu di alam semesta—mulai dari sistem biologis tubuh manusia, berhentinya pertumbuhan tinggi badan pada batas ideal tertentu, hingga rintik air hujan yang diturunkan titik demi titik agar membawa manfaat dan bukan kehancuran—semuanya mencerminkan qudrah dan hikmah Allah.

Pengaruh Mengimani Al-Qādir, Al-Qadīr, dan Al-Muqtadir dalam Kehidupan

1. Tawakal Mutlak dan Keyakinan Terhadap Pertolongan Allah

Seorang mukmin yang meyakini kekuasaan mutlak Allah tidak akan ragu dalam berdoa dan bertawakal saat mengalami kesempitan. Dia yakin bahwa Allah Maha Kuasa mencukupkan rezekinya, membuka jalan keluar dari kesulitan, dan mengabulkan hajat hamba-Nya tatkala hamba tersebut bersandar hanya kepada-Nya tanpa bergantung pada makhluk.

2. Ketenangan Hati dan Prasangka Baik di Balik Musibah

Ketika menghadapi ujian personal (seperti sakit, kebakaran, atau kebangkrutan) maupun musibah massal (seperti bencana alam dan penindasan atas kaum muslimin):

  • Seorang mukmin yakin bahwa Allah Maha Kuasa mengangkat bencana tersebut dan menundukkan musuh.
  • Dia meneladani para sahabat pasca-Perang Uhud. Kendati didera luka dan diancam oleh pergerakan kembali pasukan musyrikin, keimanan mereka justru bertambah hingga berucap:
  • “Hasbunallāhu wa ni’mal wakīl” (Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung).
  • Jika pertolongan atau pembalasan tampak tertunda—sebagaimana Allah menunda azab atas Firaun pada masanya—kita meyakini bahwa di balik penundaan tersebut senantiasa terdapat kelembutan, pengangkatan derajat bagi orang beriman, dan hikmah agung yang tidak seluruhnya kita ketahui.

3. Menjauhkan Diri dari Kezaliman

Mengetahui bahwa Allah Maha Membalas dan Maha Berkuasa akan melahirkan rasa takut untuk berbuat zalim, terutama menumpahkan darah sesama kaum muslimin, merampas hak orang lain, maupun berbuat aniaya terhadap hewan. Dosa kezaliman antarmakhluk (mazhalim) tidak gugur sekadar dengan istighfar kepada Allah, melainkan harus diselesaikan dan dimaafkan oleh pihak yang dizalimi sebelum tiba pengadilan akhirat.

* Faedah Kajian Ilmiah bersama Buya Asmon Nurijal, Lc dalam pembahasan Mukhtashor Kitab Walillahil Asmaul Husna Fad'uhu Biha, Masjid Sabilul Haq Solok, Senin, 28 September 2026

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!