Artikel

Tauhid Jalan Keselamatan, Syirik Jalan Kehancuran

D

Posted by. Deli Hermanto

03 Oktober 2026 20:12 โ€ข 32 view

Share:
Tauhid Jalan Keselamatan, Syirik Jalan Kehancuran
Ilustrasi. (Gemini AI Pro)

Tauhid Jalan Keselamatan, Syirik Jalan Kehancuran

Narasumber: Buya Muhammad Elvi Syam, Lc. M.A.

Assalamuโ€™alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi Rabbil โ€˜alamin, wa shallallahu wa sallama โ€˜ala nabiyyina wa rasulillah Muhammad, wa โ€˜ala alihi wa shahbihi ajmaโ€™in. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan โ€˜abduhu wa rasuluh shallallahu โ€˜alaihi wa sallam.

Hakikat Penciptaan dan Makna Ibadah

Tujuan utama Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan jin dan manusia adalah agar mereka beribadah dan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

AdsDonasi Dakwah

Ayo gabung bersama Surau TV dalam menyebarkan dakwah yang mulia ini

ู…ูŽู†ู’ ุฏูŽู„ูŽู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฎูŽูŠู’ุฑู ููŽู„ูŽู‡ู ู…ูุซู’ู„ู ุฃูŽุฌู’ุฑู ููŽุงุนูู„ูู‡ู

"Barangsiapa menunjukkan kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya." (HR. Muslim no. 1893).

Klik Donasi
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Para ulama menjelaskan bahwa setiap perintah ibadah di dalam Al-Qur'an hakikat maknanya adalah tauhid: mengesakan dan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ibadah mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, baik perkataan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin. Contoh ibadah batin di antaranya rasa takut (khauf), tawakal, dan berharap (raja'). Sedangkan ibadah lahir contohnya adalah salat, doa, dan sedekah. Seluruh amal ibadah ini tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala apabila dicampuri dengan kesyirikan. Seseorang belum dianggap beribadah dengan sebenar-benarnya sebelum ia mentauhidkan Allah.

Secara bahasa, tauhid berasal dari kata wahhada โ€“ yuwahhidu, yang berarti mengesakan atau menjadikan satu. Ketika seseorang beribadah semata-mata mengharap ridha Allah, barulah ia mentauhidkan Allah. Sebaliknya, jika ia berdoa kepada Allah sekaligus memohon kepada selain-Nya, atau bersedekah demi mengharapkan pujian dan sanjungan manusia (riya'), maka ia belum mentauhidkan Allah karena masih memalingkan tujuan ibadahnya kepada selain-Nya.

Tauhid: Inti Dakwah Para Rasul

Pangkal perselisihan dan permusuhan antara para nabi dengan kaumnya sepanjang sejarah adalah perkara tauhid. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus para rasul pada setiap umat dengan misi yang sama: mengajak manusia beribadah hanya kepada Allah dan menjauhi thaghut. Fokus dakwah seluruh rasul, mulai dari Nabi Nuh 'alaihissalam hingga Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, adalah pemurnian tauhid.

Al-Qur'an mengabadikan perjuangan dakwah Nabi Nuh 'alaihissalam yang mendakwahi kaumnya siang dan malam selama 950 tahun. Antara masa Nabi Adam hingga Nabi Nuh terdapat sepuluh generasi yang seluruhnya berada di atas tauhid.

Penyimpangan mulai terjadi ketika muncul generasi yang bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap lima orang saleh di masa itu (Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq, dan Nasr). Awalnya, kaumnya hanya membuat patung atau gambar untuk mengenang jasa dan kesalehan mereka agar termotivasi dalam beribadah. Namun, setelah generasi tersebut wafat dan ilmu agama terkikis, setan membisikkan bahwa patung-patung itulah yang disembah dan dimintai pertolongan oleh nenek moyang mereka. Akhirnya, generasi berikutnya menyembah patung-patung tersebut. Pada kondisi inilah Allah mengutus Nabi Nuh 'alaihissalam untuk mengembalikan manusia kepada tauhid.

Pembagian Tauhid

Berdasarkan istiqra' (penelaahan dan analisis dalil-dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah), para ulama membagi tauhid menjadi tiga bagian:

1. Tauhid Rububiyyah

Tauhid Rububiyyah adalah mengesakan Allah dalam segala perbuatan-Nya (af'alullah), seperti menciptakan, memelihara, menguasai, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur seluruh alam semesta tanpa ada sekutu bagi-Nya.

Keyakinan rububiyyah ini sesungguhnya diakui oleh orang-orang kafir Quraisy pada zaman Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Di dalam Al-Qur'an (seperti dalam QS. Yunus dan QS. Al-Mu'minun ayat 84โ€“89), Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk bertanya kepada orang-orang musyrik: "Milik siapakah bumi dan semua yang ada di dalamnya? Siapakah Penguasa langit yang tujuh dan Arsy yang agung?" Mereka menjawab: "Milik Allah."

Meskipun mereka meyakini hal tersebut, pengakuan itu belum cukup memasukkan mereka ke dalam Islam. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tetap memerangi mereka karena mereka mempersekutukan Allah dalam ibadah.

Konsekuensi dari meyakini bahwa Allah satu-satunya Pencipta dan Pengatur adalah kita wajib memurnikan doa, tawakal, dan penghambaan hanya kepada-Nya. Keyakinan yang rusakโ€”seperti meyakini adanya orang sakti atau kekuatan gaib yang bisa mengatur hujan, mendatangkan celaka, atau memberi berkah di luar ketentuan Allahโ€”akan menjerumuskan pelakunya ke dalam syirik uluhiyyah.

2. Tauhid Uluhiyyah

Tauhid Uluhiyyah adalah mengesakan Allah melalui perbuatan para hamba (af'alul 'ibad), seperti dalam berdoa, menyembelih, bernazar, berharap, dan bertawakal. Di sinilah letak pertentangan utama antara para rasul dan kaumnya.

Sebuah amal ibadah hanya akan diterima di sisi Allah apabila memenuhi dua syarat utama:

  • Ikhlas kepada Allah (Tajridul Ikhlas): Ibadah dilakukan murni hanya untuk mencari keridhaan Allah, terbebas dari riya' dan kesyirikan.
  • Mengikuti tuntunan Nabi (Tajridul Ittiba'): Tata cara pelaksanaan ibadah harus sesuai dengan syariat yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Keduanya harus terpenuhi. Niat yang ikhlas tidak akan sah jika caranya menyimpang dari sunnah, begitu pula tata cara yang benar tidak akan bernilai jika niatnya tidak ikhlas karena Allah.

Salah satu bentuk ibadah agung adalah doa. Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kita untuk berdoa kepada-Nya dan menjanjikan pengabulan:

"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu..." (QS. Ghafir: 60)

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa tidak ada seorang muslim yang memanjatkan doa yang bebas dari dosa dan pemutusan silaturahmi, melainkan Allah akan memberikan satu dari tiga hal: dikabulkan segera, dijadikan tabungan pahala di akhirat, atau dihindarkan dari keburukan yang sepadan. Yang terpenting, hamba harus menjauhi penghalang terkabulnya doa, seperti konsumsi makanan dan harta yang haram.

3. Tauhid Asma' wa Sifat

Tauhid Asma' wa Sifat adalah mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Maknanya adalah menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi diri-Nya di dalam Al-Qur'an dan apa yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam di dalam hadis yang sahih, dengan kaidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah:

  • Tanpa tahrif (menyelewengkan makna).
  • Tanpa ta'thil (menolak atau meniadakan sifat).
  • Tanpa takyif (menanyakan atau menggambarkan hakikat bagaimananya).
  • Tanpa tamtsil/tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya).

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (QS. Al-Ikhlas: 1โ€“4)

Serta firman-Nya:

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Asy-Syura: 11)

Kaidah mendasar: Menetapkan sifat bagi Allah bukan berarti menyamakan-Nya dengan makhluk, dan menyucikan Allah dari keserupaan bukan berarti meniadakan sifat-Nya. Manusia mendengar dan Allah mendengar, namun pendengaran makhluk serba terbatas dan penuh kelemahan, sedangkan pendengaran Allah Maha Sempurna dan Maha Luas meliputi segala sesuatu.

Sebagian kalangan terjebak dalam pemikiran keliru karena beranggapan bahwa menetapkan sifat berarti menyerupakan Allah dengan makhluk. Akibatnya, mereka menolak sifat-sifat Allah hingga menyatakan bahwa Allah tidak di atas, tidak di bawah, tidak di dalam, dan tidak di luar alam.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pemurah) bersemayam di atas 'Arsy." (QS. Thaha: 5)

Demikian pula hadis tentang seorang budak perempuan yang ditanya oleh Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam: "Di mana Allah?" Budak tersebut menjawab: "Di langit (fi as-sama')." Nabi pun bersabda: "Bebaskan ia, karena sesungguhnya ia adalah seorang mukminah." Terdapat puluhan ayat dan hadis yang menetapkan ketinggian Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Inilah akidah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan para sahabat, yang menetapkan keagungan sifat Allah tanpa menyerupakan-Nya dengan tempat maupun keterbatasan makhluk.

Inilah pemurnian tauhid yang menjadi bekal keselamatan kita ketika kelak menghadap Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pada pertemuan berikutnya, insya Allah, kita akan mengkaji lawan dari tauhid, yaitu syirikโ€”baik syirik akbar (besar) yang mengeluarkan pelakunya dari Islam maupun syirik ashghar (kecil), beserta konsekuensi hukum dan bahayanya bagi amal perbuatan manusia.

Wa shallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad, wa akhiru da'wana 'anil hamdu lillahi Rabbil 'alamin. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

* Faedah Ilmiah dari Kajian Kitab bersama Buya Muhammad Elvi Syam, Lc. MA dengan pembahasan Tauhid Jalan Keselamatan, Syirik Jalan Kehancuran, di Masjid Mukhlisin Manggis Kota Bukittinggi, Sabtu 3 Oktober 2026

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

AdsDonasi Dakwah

Ayo gabung bersama Surau TV dalam menyebarkan dakwah yang mulia ini

ู…ูŽู†ู’ ุฏูŽู„ูŽู‘ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฎูŽูŠู’ุฑู ููŽู„ูŽู‡ู ู…ูุซู’ู„ู ุฃูŽุฌู’ุฑู ููŽุงุนูู„ูู‡ู

"Barangsiapa menunjukkan kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang melakukannya." (HR. Muslim no. 1893).

Klik Donasi

Trending Insight

Advertisement